BELAJAR KEARIFAN BERNEGARA DARI KESULTANAN BUTON

BELAJAR KEARIFAN BERNEGARA DARI KESULTANAN BUTON
Oleh : M.Hatta Taliwang

Bagi intelektual yg keranjingan ilmu dari BARAT atau dari NEGARA LAIN,mungkin bijak jg jika belajar kearifan dari lokal Indonesia yg nilainya tdk kurang mulia. Misalnya tentang kerajaan Buton yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Buton.

Pelajaran Pertama: MENGHORMATI PEREMPUAN
Pada periode Kerajaan antara thn 1322 sd Abad ke 16, dipimpin oleh 6 Raja diantaranya 2 orang raja perempuan yaitu Wa Kaa Kaa dan Bulawambona. Kedua raja ini merupakan bukti bahwa sejak masa lalu derajat kaum perempuan sudah mendapat tempat yang istimewa dalam masyarakat Buton.

Kedua : KESULTANAN DEMOKRATIS.
Pada periode kerajaan berubah jadi kesultanan(abad ke 16), demokrasi memegang peranan penting.Sultan bukan berdasarkan keturunan namun dipilih oleh Siolimbona, dewan yang terdiri dari 9 orang penguasa dan penjaga adat Buton.

Ketiga, SULTAN PUASA SEX
Setiap sultan berjanji untuk tidak lagi tidur dengan permaisuri demi menghindari lahirnya putra mahkota saat mereka bertahta. Karena bila sampai lahir seorang putra, maka kesultanan tidak lagi melalui proses demokrasi melainkan diwariskan kepada keturunannya.

Keempat: SANGGUP MENERIMA HUKUMAN MATI
Saat pelantikan, sultan terpilih akan membuat sumpah untuk menjalankan UU negara yang disebut Murtabat Tujuh, dan menerima konsekuensi digantikan atau bahkan kehilangan nyawa bila melanggar UU tersebut( Sultan ke – VIII La Cila Maradan Ali (Gogoli yi Liwoto. 1647–1654), diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali)

Kelima: PATUH PADA FALSAFAH KESULTANAN
Falsafah hidup Kesultanan Buton ini lahir pada akhir abad ke-16 M.
Falsafah Hidup Kesultanan Buton meliputi.
1. Agama (Islam)
2. Sara (pemerintah)
3. Lipu (Negara)
4. Karo (diri pribadi/ rakyat)
5. Arataa (harta benda)
Kita akan bahas falsafah diatas dibandingkan dg
PANCASILA.Bukankah itu bernilai kearifan yg tinggi?(MHT)

Leave a Reply