BERSELANCAR DIATAS OMBAK DOLLAR

BERSELANCAR DIATAS OMBAK DOLLAR
Catatan : M.Hatta Taliwang

Semula ada kecurigaan bahwa gonjang ganjing kenaikan dollar karena ada permainan jelang PEMILU, dlm rangka penghimpunan dana PEMILU partai(penguasa khususnya). Tetapi belakangan umum mengetahui karena ternyata faktor kebijakan Bank Sentral AS Federal Reserve/The Fed yg melakukan “tapering off”, yaitu penghentian pembelian Bonds dipasar uang.
Dampak internasionalnya luar biasa. Menurut DR.Bambang Kusumanto : “Di Cina, Jepang, India, Brazil, rakyat selalu ingin dollar naik, biar ekspornya meningkat dan rakyatnya tambah sejahtera. Padahal mereka impor bahan bakunya cukup besar , tapi sistem mereka bisa menciptakan ‘added value’ yang besar sehingga gain cadangan devisanya besar. Inilah model ekonomi dengan “kepribadian” ekspor oriented yang pro rakyat.
Di Indonesia model ekonominya tidak jelas alias banci dan tidak berkarakter kuat. Dibilang ekspor oriented tapi ketika nilai tukar berubah, sisi impornya kedodoran. . Padahal ‘pelemahan nilai tukar uang sendiri terhadap mata uang asing’ adalah salah satu kiat yang dipakai dalam perang dagang sepanjang sejarah”.

Sekarang tampak Pemerintah panik hadapi penurunan nilai rupiah. Dibuatlah tabel daftar langkah2 yg akan ditempuh, utk atasi keadaan. Sekilas solusi yg akan dilakukan butuh waktu panjang dibanding kecepatan eskalasi masalah yg sedang dihadapi.Ibarat sedang hadapi kebakaran, mobil pemadamnya msh perlu diservice dulu, sopirnya masih demam dll.

Diluar situasi ini ada sekelompok elit yg “cemas cemas senang” dg gonjang ganjing nilai dollar ini.Mereka berselancar diatas ombak. Mungkin inilah oportunis/petualang yg oleh Salamuddin Daeng ditulis: ” ambruknya rupiah berarti berlipatgandanya nilai kekayaan mereka. Jika rupiah menembus Rp 15.000/USD maka berarti kekayaan mereka telah berlipat dua kali lipat sejak merosotnya rupiah. Dengan demikian akan menambah sumber dana operasional partai, dana menyogok rakyat dalam pemilu,dana menyuap demi jabatan pasca pemilu 2014″.

Daeng menduga banyak uang haram milik para politisi dan pejabat negeri ini yang diperoleh dari hasil korupsi(korupsi APBN saja sekitar 30-40%), money laundry, setoran para mafia/ sindikat dan lain-lain yang bersumber dari ekonomi back office yang digunakan untuk kegiatan spekulasi, disimpan dalam bentuk USD.

Kita lihat saja mau kemana biduk ekonomi Indonesia dibawa oleh rezim ini.Akankah berlayar dg selamat? MHT 220813

Leave a Reply