DOMINASI YG DINIATKAN

BAGIAN II
DOMINASI YANG DINIATKAN
Etnis Cina memiliki orientasi yang sangat kuat terhadap perdagangan dan ekonomi. Pada abad ke-X Masehi, armada dagang Cina-Mongol tidak bisa masuk ke pesisir utara Pulau Jawa karena ditolak Kerajaan Kediri. Kemudian pada abad ke-XII Masehi, lagi-lagi percobaan mereka digagalkan oleh Kerajaan Singasari. Konon utusan Kubilai Khan, cucu dari Jengis Khan, yang bernama Meng Chi mengancam agar Kerajaan Singasari tunduk dan mengirim upeti kepada Kubilai Khan. Hal itu membuat Raja Kertanegara murka hingga memotong telinga dan menyuruh pulang secara paksa utusan Kubilai Khan tersebut. Ekspansi penaklukan Kubilai Khan berhasil menyapu bersih Eropa, Timur Tengah, dan India. Namun saat armada Cina-Mongol berusaha menyerbu kembali Nusantara, Raden Wijaya dari Majapahit berhasil meluluhlantahkan mereka. Kegagalan demi kegagalan dalam penaklukan Nusantara tidak membuat Cina patah arang. Peluang masuk ke Nusantara baru terjadi ketika Majapahit runtuh dan digantikan Kerajaan Islam, yang kemudian dipecah belah oleh Belanda. Etnis Cina ‘merapat’ ke Belanda untuk menjadi mitranya (Bintang Pamungkas, 2012, Menggugat Dominasi Cina Atas Pribumi). Etnis Cina menjadi ‘penumpang gelap’ yang sangat lihai. Sejarah mencatat bahwa naluri Cina untuk menguasai Indonesia sudah sangat lama, bahkan berabad-abad sebelum kedatangan Belanda.

Masa pra kemerdekaan.
Pada tahun 1930 jumlah orang Cina di Jawa mencapai hampir 50% dari seluruh orang Cina yang terdapat di Indonesia. Di Jawa, tempat tinggal mereka terpisah dengan pribumi. Hampir pada setiap kota di Jawa terdapat daerah yang disebut “pecinan” yang berarti tempat tinggal orang Cina (Markhamah, 2000, Etnik Cina: Kajian Linguistik Kultural). Pada dasawarsa 1930-an etnis Cina sudah mulai mendominasi perdagangan perantara, dan mereka mendirikan dua pabrik pegolahan karet terbesar di Palembang. yang satu adalah Hok Tong, milik seorang etnis Cina yang tinggal di Singapura, dan yang satunya lagi adalah Kiang Gwan, sebuah perusahaan dagang dari kelompok Oei Tong Ham, yang merupakan kelompok usaha etnis Cina terbesar di Asia Tenggara pada zaman sebelum Perang Dunia II. Kiang Gwan mempunyai cabang di Bombay, Kalkuta, Karachi, Shanghai, Hong Kong, Amoy, Singapura, dan London (Irwan, 1999. Jejak-Jejak Krisis di Asia Ekonomi Politik Industrialisasi). Para pedagang karet pribumi kalah dalam menghadapi pengusaha etnis Cina yang jaringan dagangnya merenteng dari desa-desa sampai ke kota pelabuhan Palembang dan Singapura. Dalam (Hidajat, 1984, Masyarakat dan Kebudayaan Cina Indonesia) dijelaskan bahwa jenis usaha yang etnis Cina adalah sebagai penguasaha bank, perdagangan, industri, dan pertanian. Menurut catatan pada tahun 1930 dari jumlah 1.233.000 orang, sejumlah 470.000 orang sebagai pengusaha dalam berbagai bidang.

Masa revolusi.
Pada masa-masa revolusi, etnis Cina tidak melepaskan diri dari tujuan usahanya, terutama dalam usaha perdagangan. Orang-orang Cina tetap menjalankan usaha dagangnya pada masa-masa revolusi, baik mereka yang berada di daerah kekuasaan Indonesia maupun mereka yang berada di daerah kekuasaan Belanda. Saat penduduk pribumi sedang melakukan perjuangan untuk kemerdekaan, etnis Cina tetap fokus pada kegiatan perdaganagan. Disini terlihat bahwa orientasi etnis Cina terpusat hanya pada urusan ekonomi semata tanpa menaruh kepedulian terhadap urusan negara.

Masa Kemerdekaan.
Pada masa kemerdekaan kedaan menjadi semakin aman, usaha etnis Cina ini semakin lancar dan makin luas. Sedangkan masyarakat pribumi baru menyadari ketertinggalannya dari etnis Cina dalam berbagai bidang. Dengan demikian sejarah perkembangan masyarakat dan negara Indonesia telah memberikan kesempatan dan keuntungan bagi etnis Cina. Itulah suatu kondisi yang menghasilkan mental sosio-ekonomis etnis Cina yang berpegang pada keyakinan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam situasi apapun dan meraihnya dengan menggunakan beragam cara (Hidajat, 1984, Masyarakat dan Kebudayaan Cina Indonesia).

Pada waktu-waktu selanjutnya, etnis Cina telah menjadi sedemikian maju dan kuat dalam bidang perekonomian. Sekitar tahun 1960-an modal-modal etnis Cina memasuki perbankan swasta dan sektor pemukiman. Peraturan tentang sewa menyewa tanah, rumah dan bangunan berdasarkan hukum kolonial menguntungkan pihak penyewa. Ketika Belanda kembali ke negerinya, meninggalkan tempat-tempat tinggal serta toko-toko mereka di Indonesia, etnis Cina dengan segera menguasai tempat-tempat tinggal dan toko-toko strategis seperti di Braga Bandung, Pasar Baru dan Harmoni di Jakarta (Husodo, 1985 Warga Baru (Kasus Cina Di Indonesia)). Pada masa Orde Baru pertumbuhan ekonomi sudah mulai kondusif yang didorong  banyaknya usaha dan modal swasta yang keduanya dimiliki oleh etnis Cina dan ditunjang pula oleh kemampuan teknis dan hubungan perekonomian dengan pihak luar, terutama dengan sesama etnis Cina di luar negari, seperti etnis Cina di Hongkong dan Singapura.
Masa Orde Baru. Masa ini merupakan masa keemasan bisnis etnis Cina di Indonesia, terlebih bagi sebagian dari mereka yang dekat dengan penguasa. Etnis Cina menganggap dirinya sebagai salah satu pilar penyangga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Keberanian pengusaha dan pelaku ekonomi etnis Cina lainnya dalam penanaman modal, spekulasi, strategi kerjasama dan jaringan kerja dengan pihak luar menjadi poin istimewa kegiatan ekonomi etnis Cina di masa itu.

Di masa Orde Baru,
nama Liem Sioe Liong sangat terkenal sebagai pengusaha Cina yang bukan hanya berhasil dalam mengembangkan usaha-usaha besar strategis, tetapi juga sering dikaitkan dengan isu-isu politik. Liem Sioe Liong yang dikenal dengan nama Soedono Salim pemilik Salim Group, merupakan salah satu sosok etnis Cina perantauan yang sukses mengadu untung di luar negara asalnya. Soedono Salim yang meninggalkan Cina selatan di tahun 1930-an menuju Indonesia, melalui jaringan usaha perdagangannya bisa berhubungan erat dengan Soeharto. Keuntungan yang didapat Liem Sioe Liong dari hubungan ini adalah diperolehnya berbagai fasilitas ijin ataupun proyek untuk perusahaan Salim Group, hingga penjualannya meningkat drastis sampai $ 9 juta tahun 1994, yang dihitung sebagai 5% pendapatan kotor domestik Indonesia. Walaupun dalam pers Indonesia nama Liem Sioe Liong tidak banyak mendapat sorotan khusus, namun di dunia usaha namanya sudah tidak asing lagi.

Masa Reformasi hingga kini.
Masa ini etnis Cina semakin leluasa dalam melakukan penguasaan banyak hal dalam dimensi kehidupan masyarakat dan pemerintah di Indonesia. Berikut sedikit contoh diantara banyaknya bentuk-bentuk dominasi etnis Cina dalam perekonomian Indonesia. Dari 100 pengusaha terkaya do Indonesia, 96 diantaranya etnis Cina (Majalah Forbes), berikut diantaranya: Harry Tanoesoedibyo (Group MNC-nya yang terdiri dari RCTI, Global TV, Indovision, dan Sindo/10 triliun), Liem Sioe Liong/Anthony Salim (Salim Group/130 triliun), Samsul Nursalim (Gajah Tunggal/20 triliun), Prayogo Pangestu (Chandra Asri), Eka Tjipta Wijaya (Sinar Mas/90 triliun), Tomi Winata (Group Artha Graha/10 triliun), Sukanto Tanoto (Royal Golden Eagle/45 triliun), Budi Hartono (Group Djarum/70 triliun), Mochtar Riady (Group Lippo/50 triliun), Ciputra (Group Ciputra/5 triliun), Samin Tan (Borneo Lumbung Energy/7 triliun), Murdaya Poo (Central Cipta Murdaya/14 triliun) dan masih ada seratusan lagi pengusaha etnis Cina yang menguasai roda ekonomi Indonesia.