Hatta Nilai Tudingan Badut Politik Kekanakan

m-hatta-taliwang

Jakarta, Tambangnews.com.- Lontaran kritik pendiri Independent Research & Advisory Indonesia Lin Che Wei terkait pengusung gugatan pembuaran BP Migas di Mahkamah Konstitusi (MK) dinilai oleh Direktur Eksekutif Institut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH) sebagai sikap kekanak-kanakan.

“Jadi apa yangg perlu dirisaukan? Hanya sekedar untuk mementahkan “kepahlawanan” mereka yngg menang dalam Judicial Review tentang BP Migas? Ah kekanakan banget!” ungkap Hatta Taliwang kepada Tambangnews.com, Sabtu (17/11) malam menanggapi artikel Lin Che Wei berjudul Badut Politik Dibalik Pembubaran BP Migas yang beredar di dunia maya.

Menurut mantan anggota DPR RI ini bukan hanya UU Migas yang dipersoalkan, puluhan UU yang dibuat diawal Reformasi juga dipersoalkan. Terutama yang melibatkan konsultan-konsultan asing.

“Artinya memang pada saat euphoria reformasi itu banyak yang hanya fokus menjatuhkan Soeharto, tetapi tidak waspada bahwa dibalik itu ada agenda agenda besar dari pihak asing untuk makin meliberalisasi Indonesia. Peristiwa  itulah yang oleh Dr. Syamsul Hadi dkk (dari UI) sebagai KUDETA PUTIH. Jadi bagi kami siapapun sah untek melakukan peninjauan ulang atas produk UU yang dianggap bertentangan denga UUD negerinya. Tanpa harus menyebut sebagai Badut atau cap apapun,” ungkap Hatta.

Dijelaskannya Lagi pula keputusan MK diambil oleh 9 hakim MK, sangat naif kalau itu dianggap sebagai manuver dan permainan politik Mahfud MD. Kalau begitu berarti si penuduh ( Lin Che Wei, red) meremehkan kredibilitas 8 hakim lainnya.

“Bisa saja ada orang-orang yg dimaksud oleh  Lin Che Wei namun dalam persfektif saya sebisa mungkin, sekali lg mungkin, sebatas  disebut sebagai orang yang baru tercerahkan kembali atau barangkali sebaga semacam pertobatan. Daripada menjadi orang yang sudah tahu tidak benar tetapi terus berjalan diatas ketidakbenaran sampai akhir hidupnya,” terang Hatta.

Jangankan urusan Undang Undang, urusan UU Dasar saja berapa kali pemimpin-pemimpin bangsa kita (Pemimpin yg itu ke itu di era thn 40an, 50an) juga “tersesat” sehingga harus bolak balik merubah UUD. Ada UUD 45, Ada UUDS50 kemudian kembali ke UUD 45 lagi.

“Itu biasa saja dalam dinamika politik bangsa dalam menjawab setiap masalah dan tantangan zaman. Besok pun jangankan UU, UUD yang sekarangpun bisa kita tinjau ulang,” pungkas Hatta.

Dalam artikel yang ditulis  Lin Che Wei  disebutkan Pak Kwik Kian Gie, mengapa anda tidak ribut-ribut ketika anda justru sangat berkuasa sebagai Menko Ekuin. Pak Rizal Ramli, mengapa anda tidak menyatakan keberatan anda justru dizaman reformasi dimana anda adalah Menkeu dan Menko. Pak Mahfud MD – mengapa kita tidak membahas soal Energy Security issue ketika anda menjadi Menhan? “Oh ya saya juga baru sadar bahwa anda adalah ketua kehormatan ikatan alumni NU yang juga ikut di dalam menggugat putusan tersebut,” tulis Lin Che Wei mempertanyakan pihak-pihak yang bersentuhan dengan pembubaran BP Migas tersebut.(Tn01)

http://www.tambangnews.com/berita/utama/2915-hatta-nilai-tudingan-badut-politik-kekanakan.html

 

Leave a Reply