JENDERAL TELADAN

JENDERAL TELADAN

Oleh : M.Hatta Taliwang

Sejenak kita menoleh ke belakang tentang kehidupan Jenderal Jendral Teladan Angkatan Darat. Kita pasti tidak lepas dari nama nama besar : Sudirman, TB Simatupang,AH Nasution, M Jusuf dll. Sudirman hanya sy baca kisah hidupnya singkat namun sangat patriotik. TB Simatupang sy baca bukunya(Laporan dari Banaran, Pelopor Dlm Perang Pelopor Dlm Damai dan Saya Adalah Orang Yg Berhutang) saya mendapat kesan beliau orang cerdas,berwawasan luas dan penuh teladan. Tentang Jenderal Jusuf, hanya satu buku yg saya baca tentangnya : “Jendral M Jusuf,Panglima Para Prajurit”. Beliau orang pemberani (berani gebrak meja di depan Pres Soeharto) dan penampilannya sederhana,spontan dan disayangi prajurit. Bagi yg sdh dewasa di tahun awal 80an tentu kenal siapa Jen Jusuf. Khusus Jen Besar AH Nasution kebetulan saya kenal dekat sejak tahun 1973 sampai dengan wafatnya tahun 2000. Warisannya antara lain buku 11 Jilid Sejarah Perang Kemerdekaan yg kalau disusun mungkin setinggi 50 cm tebalnya, ditambah Biografinya: “Memenuhi Panggilan Tugas sekitar 10 Jilid” juga cukup tebal . Kehidupannya sangat sederhana. Rumah Jalan Teuku Umar 40 Menteng adalah warisan mertuanya. Setelah Jen Nasution wafat rumah tsb dijual, hasilnya dibagi 3 (Ibu Nasution bersaudara 3 orang). Rumah tsb dibeli Pemerintah lalu dijadikan MUSEUM AH Nasution. Apakah ada warisan kebendaan lain? Saya kira dilacak kemanapun tak akan ditemui. Keluarga di kampungnya di Tapanuli Selatan (Kotanopan) sy yakin tetap hidup sederhana.Padahal Nasution adalah KSAD terlama (sejak awal 1950an sd thn 1962) dan orang nomor dua paling berkuasa di era Soekarno.

Lunturnya nilai nilai kesederhanaan, kejujuran, patriotisme,dll yang pada tahun 70an dikenal dg istilah EROSI IDEALISME, mungkin dimulai pada era Orde Baru seiring masuknya kapitalisme dg nilai nilai ikutannya pragmatisme, hedonisme,transaksionalisme, individualisme,liberalisme, exibitionisme dll. Diperparah lagi di era Reformasi ini. Saya yakin Jendral Jendral senior dan teladan itu seandainya bisa bangkit lagi dari liang lahatnya pasti akan geleng geleng kepala atau malah tak kuat lagi menyaksikan tingkah,sikap dan gaya hidup junior juniornya sekarang. Tentu tidak semua. Karena diantara Jenderal yg makmur itu banyak juga yang masih terancam diusir dari rumah kompleks yg dihuni sejak berdinas tetapi tdk mampu membeli rumah setelah pensiun.
Masih banyak prajurit yang memberi hormat keatasannya dg standar militer resmi tanpa harus mencium tangan atasannya.

Tentu kita juga tdk bermimpi agar mereka hidup seperti sebagian senior seniornya dlm keprihatinan dan kesulitan ekonomi. Tetapi paling tidak mereka tetap punya nilai kejuangan,keprihatinan dan kepedulian atas nasib rakyat dan bangsanya, tdk mencontoh sebagian seniornya yang terbawa arus kapitalisme serta nilai nilai ikutannya yg melunturkan idealisme.Jenderal Soedirman
berpesan :“Ingat, bahwa prajurit Indonesia bukan prajurit sewaan, bukan prajurit yang menjual tenaganya karena hendak merebut sesuap nasi dan bukan pula prajurit yang mudah dibelokkan haluannya karena tipu dan nafsu kebendaan, tetapi prajurit Indonesia adalah dia yang masuk ke dalam tentara karena keinsafan jiwanya, atas panggilan ibu pertiwi. Dengan setia membaktikan raga dan jiwanya bagi keluhuran bangsa dan negara.” MHT040913

Leave a Reply