JURUS MABOK KI DALANG

JURUS MABOK KI DALANG YANG TERBENGONG MELIHAT LAKON NYA.

Menuduh tanpa bukti dilarang. Tapi mencurigai atau menduga berdasarkan indikator tentu boleh dong. Sadar bahwa Jokowi naik tahta hasil rekayasa tanpa basis politik yang kuat, hanya mengandalkan massa yg terhipnotis oleh rekayasa maka sang dalang atau para dalang atau team dalang atau konsorsium dalang Jokowi melakukan politik kuno ala penjajahan Belanda atau ala penguasa penguasa sebelumnya yaitu dg DEVIDE AT IMPERA atau politik ADU DOMBA untuk mempertahankan kekuasaan. Hanya tentu saja sedikit dipercanggih sehingga yg awam politik kurang dapat membaca. Rumusnya sederhana saja : KALAU KAMU LEMAH DAN SADAR BAHWA KAMU DIKEPUNG BINATANG BUAS MAKA BERTEMANLAH DENGAN SALAH SATU DARI BINATANG BUAS ITU SEMBARI ADU DOMBALAH BINATANG BUAS LAINNYA. Kira kira demikianlah yg dapat kita baca POWER PLAY yg dimainkan dlm beberapa bulan Jokowi berkuasa.
Apakah saya sedang melamun atau ngelantur? Silahkan cek peristiwa atau rangkaian peristiwa yang terjadi pasca Jokowi dilantik. Mula mula orang2 yg tidak terlalu disukai Megawati dipilih dilingkaran dekat dan dalam kabinet. Partai Nasdem dapat porsi kekuasaan lbh besar dari PDIP. Kader yg tidak terlalu direkomendasi pimpinan partainya malah masuk kabinet. Situasi demikian membuat lingkaran KIH tidak nyaman. Potensi yg akan ganggu kekuasaan dari KMP diacak acak. P3 dipecah. Gokar dilumpuhkan. Partai lain yg jinak jinak jinak merpati diberi angin surga dlm kabinet. DPR jadi lembaga banci. Belum puas dg itu lembaga yg potensial membuka borok kekuasaan yaitu KPK dilumpuhkan. Sembari terus membuat sakit hati Ibu Megawati dg menarilk Rini Soemarno, wanita yg selama ini dikenal sangat dekat Mega namun “dibuat” berkhianat ke Mega. JK yg potensial mengganggu kekuasaan Jokowi dibuat tak berdaya dan “dicarikan sparring lawannya” yg pas yaitu Luhut Panjaitan.
Untuk mengamankan kekuasaan maka Jokowi melakukan pendekatan khusus ke TNI terutama AD dan Polisi.
Maaf utk semua POWER PLAY tak etis saya buka seluruh detailnya.

Itu antara lain adu domba dan politik rangkul ditingkat elit. Bagaimana dg masyarakat ? Cara termudah adalah mengadu domba dg issu SARA. Karena ini sensitif maka tak perlu kita rinci.

Sebenarnya dalam politik sah sah saja melakukan permainan demi mengamankan dan mempertahankan kekuasaan. Sama seperti permainan catur terkadang kita terpaksa melakukan gerakan mengorbankan kuda atau gajah atau benteng untuk sebuah atau dua buah pion demi MENGAMANKAN POSISI dan utk mencapai kemenangan.
Apakah semua permainan atas ide Jokowi ? Belum tentu. Jokowi cuma diberitahu garis besar apa yg harus dilakukan. Jokowi cuma wayang.

Pertanyaannya apakah semua permainan yg dilakukan itu telah bermnfaat utuk rakyat ?Apakah permainan itu membuat Pemerintahan jadi solid atau malah kacau balau?.

Buat rakyat tak penting segala detail permainan itu. Yg penting negara aman tidak bangkrut atau terpecah belah, negara dihormati negara lain, rakyat cukup sandang pangan dg harga yg terjangkau, hidup rukun dan tentram, pelayanan publik menyenangkan, keadilan hadir dalam batin rakyat dll. Apakah mimpi tentang negara dan rakyat tsb dalam kekuasaan Jokowi makin mendekat dan nyata ? Secara obyektif dan subyektif kok rasanya makin menjauh? Makin terasa negara makin lemah dan tidak hadir dlm berbagai derita dan musibah rakyat. Keamanan dan kenyamanan makin merisaukan. Ekonomi untuk rakyat makin memberatkan. Kelas menengah makin galau.

Maka pertanyaan untuk para dalang Jokowi, mau dibawa kemana bangsa dan negara ini?
Permainan apalagi yg mau diputar? Jangan jangan dalang kehabisan ide, aktor aktor karena pemain cabutan tak mampu berimprovisasi membangun harmoni sehingga cerita tdk jalan sesuai skenario? Dalang jadi bengong ? He he Salam maaf, MHT25/7/15.