KITA TIDAK ANTI PRIBADI JOKOWI

KITA TIDAK ANTI PRIBADI JOKOWI
KITA MEMUSUHI JIKA KABINET JOKOWI DAN SISTEM YG DITERAPKAN SAMA DENGAN SBY YG NEOLIBERISME

Oleh : M.Hatta Taliwang
INSTITUT EKONOMI POLITIK SOEKARNO HATTA( IEPSH)

Mengapa kita begitu memusuhi ideologi dan sistem ekonomi neoliberalisme?
Saya akan berikan contoh kongkrit, biar rakyat awam dan mahasiswa yg msh junior faham. Banyak kalangan awam terutama kaum Ibu sangat mengagumi SRIMULYANI, putri Indonesia, cantik, cerdas dan kenes. Dia diaanggap simbol kehebatan perempuan Indonesia. Pernah jadi Menteri Keuangan era SBY dan belakangan jadi Pejabat Penting di Bank Dunia.Pernah dapt berbagai Penghargaan dari Luar Negeri sbg Menteri Keuangan Terbaik. Pokoknya serba wah.Keren.

Tapi untuk mengerti siapa Ratu Keuangan ini atau bahasa teman saya Justiani : “SPG(Sales Promotion Girl) BANK DUNIA/IMF” kita telusuri cerita yg ditulis AKTUAL ONLINE dibawah ini :

“Selain mega skandal Century, Ani(Srimulyani) juga punya sederet prestasi yang membuktikan dia adalah seorang komprador(antek =ASONG,edit MHT) asing sejati.

Pada Februari 2013, misalnya, obligasi RI yang dijualnya laris-manis bak kacang goreng. Dan, pembeli utamanya ternyata investor asing.

Kenapa? Perempuan yang dipuji-puji media asing sebagai Menkeu terbaik Asia, bahkan dunia ini, menyorongkan yield sebesar 5,26% per tahun. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi yang diterbitkan sejumlah negara ASEAN lain. Sebut saja, Thailand 3,61%, Filipina 3,52%, dan Malaysia 3,48%.

Yang membuat seru, yield yang dibayar Indonesia ternyata jauh lebih tinggi ketimbang Filipina. Padahal saat obligasi itu diterbitkan, sejumlah lembaga rating seperti S&P, Fitch, dan Moody’s mengganjar peringkat Indonesia di atas Filipina. Dalam logika pasar uang, negara yang peringkatnya lebih tinggi bisa mengail dana dengan biaya lebih murah.

Selisih bunga Indonesia dan Filipina sepertinya ‘hanya’  1,74%. Tapi mari kita sejenak menggunakan kalkulator sederhana. Tenor obligasi yang diterbitkan negara biasanya panjang, 20-30 tahun. Obligasi yang dilego mbak Ani itu nilainya Rp 812 Trilyun. Dengan selisih bunga yang ‘hanya’ 1,74% itu akan memaksa Indonesia membayar 34,8% atau Rp 282,57 Trilyun lebih besar daripada jika yield-nya sama dengan Filipina yang 3,52%. Bayangkan, Rp 282,57 triliun!

Bisakah Anda memaknai angka Rp282,7 triliun dalam 20 tahun bagi Indonesia? Itu artinya, tiap tahun rakyat harus membayar Rp14,13 triliun lebih besar untuk mengisi kocek asing. Jumlah itu setara dengan membangun tiga jembatan setara Suramadu. Jauh lebih besar daripada biaya membangun double track kereta api Jakarta-Surabaya yang cuma Rp10 triliun.”(SUMBER : http://m.aktual.co/voiceoffreedom/093323ani-kuntoro-jadi-menteritrisakti-cuma-jadi-jargon )
BERSAMBUNG BESOK.