KOMISARIS BESAR POLISI DAN KISAH JENDRAL HOEGENG.

KOMISARIS BESAR POLISI DAN KISAH JENDRAL HOEGENG.
Oleh ; M Hatta Taliwang

Kemarin saya kebetulan ktemu dengan polisi berpangkat KOMBES. Pernah jadi Kapolres tentu saja alumni AKPOL. . Dia mengagumi Jend Polisi Hoegeng Iman Santoso.Dia mengaku ke saya dg polos. ” Kalau pak Hoegeng itu polisi yang sangat jujur dan bernurani, maka saya bukanlah orang yg jujur sperti beliau . Saya cuma masih punya nurani” Maksudnya ? : “Ya saya hanya mau mengerjakan apa yang menurut sy benar. Saya tdk mau mengerjakan yg salah utk dibenar benarkan” lanjutnya lagi : “Kalau karena membantu memperlancar yg benar itu, sy kemudian dapat imbalan (terima kasih) ya saya terima sbg rezeki he he he”. Lalu sy mencari referensi pembanding dg sikap Jendral Hoegeng. Saya teringat cerita teman sy yg dekat dg beliau. Ini kisah secuil dari banyak kisah tentang Jen Hoegeng yg sy dengar. Suatu hari datang kiriman truk kayu dan semen ke Jln Prof M Yamin di Menteng(tempat tinggal Hoegeng saat pensiun). Singkat cerita itu kiriman dari Pejabat Polisi utk memperbaiki rumah Pak Hoegeng. Pak Hoegeng menolak dg alasan semua masih layak pakai dan memerintahkan agar truk itu pulang.

Secara tersirat saya menangkap pesan Kombes itu, sebagian rekan polisi ada yg : “membenar benarkan yang salah”. Ini yang menurut kategorinya TIDAK JUJUR DAN TIDAK BERNURANI!

Banyak nilai nilai luhur telah hilang dari institusinya.Tahun 80/90an katanya hanya tingkat Kapolres keatas yg perlu setoran. Sekarang utk jadi Kapolsek pun perlu “setoran”. “Dulu kita cukup silaturahim biasa , sekedar bawa sebotol madu sdh bisa dpt jabatan, sekarang nuansa kekeluargaan diukur dg amplop”. Dia curhat dan ingin agar kami terus mengkritisi institusinya. Dia kawatir institusinya jadi commons enemy.
Apalagi kasus demi kasus besar mencuat ke publik.”Kalau kasus seperti Djoko Susilo ditelusuri smp Polda terus ke Polres maka rakyat lbh kaget lagi”, katanya. Sang KOMBES hanya salah satu dari sekian polisi yg masih punya NURANI. MHT

Leave a Reply