KRATON TERBAKAR TANDA SIAL?

KRATON TERBAKAR TANDA SIAL?
Oleh : M Hatta Taliwang

“Keraton Solo sudah selesai, sudah tidak ada lagi keangkerannya, karena sudah dipundut (diambil) Yang Mahakuasa. Wahyu yang semula ada dalam Kraton sdh hilang,kesuciannya hilang karena sudah diinjak-injak pemadam kebakaran” kata Dr. Budhi Santosa, dosen antropologi Universitas Indonesia ttkala mngetahui kraton Pakubuwono XII di Solo trbakar tanggal 31 Januari 1985, sperti dilaporkan TEMPO 16 Pebruari 1985.

Lebih kurang dua minggu setelah itu Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto yang masih punya kekerabatan dg kraton Solo mengambil inisiatif membentuk Panitia untuk membangun kembali bagian kraton yang terbakar tersebut. Menko Polkam Surono sebagai Ketua dengan Menteri Kehutanan Soedjarwo dan Pangab/ Pangkopkamtib Jenderal L.B. Moerdani sebagai Wakil Ketua. Presiden Soeharto sendiri menjabat pelindung, sedangkan Ny. Tien Soeharto dan G.P.H. Djatikusumo menjadi penasihat.

Di seputar keraton dan publik terjadi wacana hangat tentang perlu tidaknya kraton tersebut dibangun. Ada yang menganggap Keraton Solo telah sangar (sial) dan kotor karena telah terbakar seperti yg dinyatakan DR. Budhi Santosa dikutip diatas.

Kraton yang sudah dijamah orang luar, menurut Dr. Soedarsono, pimpinan proyek Javanologi Nusantara, Yogyakarta, memang dianggap kotor dan sangar, kekeramatannya hilang. “Kalau fungsi bangunan ingin dilestarikan seperti fungsi keraton zaman dulu, jelas istana harus pindah,” ujarnya. Sebab, menurut persepsi kerajaan klasik, bukan hanya di Jawa, pusat kerajaan itu harus suci.

Pangeran Hadiwidjojo, juga beranggapan, Kraton Solo yang terbakar itu bisa saja dibangun kembali persis seperti aslinya, tapi hilang isinya secara mistis.

Ada bantahan. “Saya meyakini keraton kami masih memiliki kesaktian , biarpun terbakar, belum menjadi keraton yang sangar,” kata K.G.P.H. Hangabehi,
Apapun perdebatannya karena yg berkehendak membangun kembali adalah “raja diraja” zaman itu maka kraton harus dibangun lagi.MHT

Leave a Reply