KRITIK HATTA PADA SOEKARNO TAK MEMUTUS TALI PERSAUDARAAN DUA TOKOH BANGSA.

KRITIK HATTA PADA SOEKARNO TAK MEMUTUS TALI PERSAUDARAAN DUA TOKOH BANGSA.
Oleh ; M.Hatta Taliwang.

Untuk menggambarkan kuat dan eratnya tali pengikat hubungan antara Bung Karno dan Bung Hatta maka sejak kemerdekaan rakyat menyebut mereka dg DWITUNGGAL. Duet proklamator bangsa yg sangat dibanggakan
yg menjadi Presiden dan Wkl Presiden pertama RI.
Sama sama pejuang kemerdekaan sejak muda, sama sama keluar masuk penjara penjajah, sama sama terdidik dan cerdas, sama sama lahir pd pembuka abad ke 20. Mereka berdua seolah cetakan Tuhan “special edition” dg missi khusus membuka babak baru sejarah dari bangsa yg sekian ratus tahun terbelenggu dlm penderitaan dan penindasan.Begitu bangga dan bahagianya bangsa ini memiliki duet ini tak kurang mantan Perdana Menteri M Natsir sangat menyesali berpisahnya duet tsb pd bulan Juli 1956, setelah lbh 10 tahun bangsa Indonesia berlayar mengarungi sukaduka bersama sepasang nakhoda bangsa tsb.

Bila kita telaah kembali sejarah perpisahan mereka maka kita temukan beberapa point perbedaan pandangan atau prinsip dari dua tokoh kebanggaan bangsa ini yg menyebabkan mereka bersimpang jalan.
Sejak muda keduanya berbeda pandangan dalam hal membangun partai sbagai kekuatan politik untuk memerdekakan dan mengisi kemerdekaan.Soekarno lbh suka melakukan penggalangan massa melalui retorika sementara Hatta lbh memilih jalan tenang,sistematis melalui pendidikan politik dan kaderisasi terencana.
Soekarno ingin suasana rukun,tenang dan harmoni tanpa pertengkaran dlm partai sementara Hatta yg lama bergaul dg tokoh partai di Eropa tidak mengharamkan konflik dan persaingan/pertengkaran demi menemukan ide dan program yg cemerlang. Hatta menyindir konsep persatuan ala Soekarno dg kalimat yg terkenal
“Apa yg dikatakan persatuan sebenarnya tak lain dari per sate an. Daging kerbau , daging sapi dan daging kambing disate jadi satu.Persatuan segala golongan ini sama artinya dg mengorbankan asas masing masing.”

Perbedaan pandangan ini berlanjut hingga pasca kemerdekaan ketika Bung Hatta mengeluarkan Dekrit/Maklumat X bulan Nov 1945 yg menjadi dasar bagi sistem parlementer dan multi partai dlm sistem politik dimana Soekarno tdk mau menandatanganinya.Soekarno lbh menyukai partai dlm jumlah terbatas agar bisa terkendali.
Sehingga Soekarno memperkenalkan apa yg disebutnya sbg Demokrasi Terpimpin dg mengubur sistem multipartai yg membuat Hatta menuduh Soekarno sebagai diktatur. Sejak itu keduanya berpisah jalan. Hatta mengundurkan diri sebagai Wapres.

Setelah tidak lagi menjadi Wapres Hatta melakukan berbagai kritik atas kebijakan Presiden Soekarno
dg menuduh Soekarno neofeodalis
serta meminta Soekarno janngan menggunakan kekerasan dlm menghadapi pergolakan daerah pd saat itu.
Secara pribadi Bung Hatta juga jangat tidak menyukai perkawinan Soekarno dg Hartini dan sebagai orang puritan Hatta kecewa terutama mengingat kebaikan dan jasa Fatmawati isteri pertama Soekarno.

Atas segala kritik Hatta itu Soekarno menurut beberapa sumber kadang senyum, berterima kasih dan kadang minta bertemu langsung.
Mereka berbeda dalam pandangan politik dlm mengelola negara tetapi tetap bersahabat secara pribadi. Ketika Soekarno dlm posisi sulit pasca G30S dan Guntur putra pertama Soekarno ingin menikah, maka Soekarno meminta Hatta sebagai saksi perkawinan. Hatta dg senang hati menerima permintaan Soekarno. Beberapa saat sebelum ajal menjemput Soekarno di tahun 1970an yg msh dlm tahanan politik Orde Baru, Hatta menemui Soekarno dan mereka berdua bersalaman erat. Lama Soekarno menggenggam tangan Hatta. Itulah genggaman tangan terakhir dua putra kebanggaan bangsa. Mereka telah menjadi teladan dlm banyak hal dan khususnya bagaimana perbedaan politik tidak selalu memutuskan tali persaudaraan.
MHT 290713.

Leave a Reply