KRITIK NASUTION PADA SOEHARTO BERUJUNG PENGUCILAN NASUTION.

KRITIK NASUTION PADA SOEHARTO BERUJUNG PENGUCILAN NASUTION.
Oleh : M.Hatta Taliwang

Tatkala Nasution menjadi KASAD dg pangkat Jenderal bintang empat tahun 1960an Soeharto masih Pangdam Diponegoro dg pangkat Kolonel. Jarak mereka cukup jauh. Tapi diawal orde baru pasca G30S, mereka berdua sempat kompak sesaat terutama menghadapi sikap Soekarno terhadap PKI dan G30S. Ujungnya Soekarno tumbang, Nasution sbg Ketua MPRS melantik Soeharto sebagai Presiden mengganti Soekarno.

Setelah Soeharto berkuasa dg tim intinya Ali Moertopo dkk maka yg pertama “digusur” adalah Nasution dkk.

Permainan politik Indonesia bagai kisah film The Power Play yg beredar sekitar tahun 1980an.

Setelah pensiun dari tentara dg pangkat Jenderal dan pensiun sbg Ketua MPRS ,Abdul Haris Nasution (AH Nasution) dikenal akrab dg panggilan Pak Nas, aktif ceramah ke kampus kampus diseluruh Indonesia. Sy mencatat hampir 30 kali ceramah di kampus dlm periode 1972 sd 1980an dlm rangka memberi “pencerahan” kepada generasi muda tentang situasi politik nasional, termasuk untuk taruna AKABRI angkatan 1972.Ini dilakukan dlm kaitan dg motto beliau :”Bagi pejuang tiada tugas akhir dan tiada akhir tugas”.
Maka tidak heran Nasution selalu “bersahabat” dg generasi muda khususnya mahasiswa.Karena pd generasi mudalah Nasution berharap dan menitip nasib bangsa ini ke depan.

Dalam berbagai dialog dan diskusi dg mahasiswa itulah sering menjadi arena uneg uneg dari mahasiswa dan terlontar kritik dari Nasution atas pengelolaan kekuasaan oleh Soeharto dan rezim Orde Baru.

Pada saat itu dibawah rezim otoriter Soeharto hanya secuil manusia yg berani “buka mulut” mengkritisi keadaan. Nasution karena kewibawaannya sebagai senior AD, salah satu yg berani mengkritisi Soeharto/Orde Baru. Yang lain lain kebanyakan ciut mengingat kekejaman Soeharto terhadap lawan politiknya. Barulah pada tahun 1980an mulai banyak yg kritis setelah PETISI 50 terbentuk. Mulai muncul Ali Sadikin dkk. Petisi 50 “dibacking” oleh Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi dimana Bung Hatta,M Natsir, Sanusi Hardjadinata dan Nasution dll termasuk didalamnya.

Kritik Nasution awal 70an terutama berkisar masalah pelaksanaan demokrasi Pancasila yg dikumandangkan Soeharto dlm pidato tgl 16 Agustus 1967. Nasution mengkritisi soal besarnya pengangkatan anggota MPR. Praktis cuma 39% anggota MPR yg dipilih dari hasil PEMILU 1971 dan 61% adalah hasil pengangkatan/penunjukan oleh rezim Soeharto. Ini didukung oleh Prof Dr Ismail Suny SH,MCL guru besar hukum tatanegara UI. Ini menyebabkan Prof Suny ditangkap dan ditahan Soeharto.

Nasution terus mengkritisi Soeharto soal lembaga Kopkamtib yg menurutnya bertentangan dg UUD45 karena lembaga Kompkamtib extra konstitusional.Pada saat itu siapapun yg dipanggil Kopkamtib dijamin berdiri bulu kuduknya. Bisa mendekam dlm tahanan yg menyakitkan.

Kritik Nasution tertuju juga pada mulai maraknya korupsi yg melibatkan istana, komersialisasi jabatan, monopoli perdagangan cengkeh,pembangunan pabrik dan perusahaan yg melibatkan keluarga Soeharto, keterlibatan berbagai Yayasan disekitar istana dlm berbagai komisi, bisnis dll.

Sehingga Nasution yg pernah memimpin operasi anti korupsi dimasa orde lama(Operasi Budhi) mengusulkan dibentuknya KOMISI NEGARA yg berwibawa utk mengusut korupsi. (Pada era reformasi diwujudkan menjadi KPK).

Nasution jg berbeda pandangan dlm soal pembangunan. Soeharto terlalu pro pada pembangunan ekonomi sementara Nasution menginginkan pembangunan manusia seutuhnya melalui prioritas pembangunan HALUAN DAN SISTEM PENDIDIKAN (nations and character building) dg kongkrit mengusulkan agar pembangunan pendidikan mengalokasikan 25% dari APBN. (Belakangan dlm Sidang MPR 2002 di era reformasi disetujui alokasi 20% anggaran pendidikan termuat dlm UUD45 hsl amandemen).

Atas segala kritik kritik itu Nasution setelah bergabung dg Petisi 50 “dilucuti” oleh Soeharto dg tidak boleh muncul pada acara dimana Soeharto hadir, mobil Holden Primier dari Hankam yg dipakai sehari hari Nasution ditarik dr rumah Nasution di Jln Teuku Umar 40 Jkt. Dan lain lain perlakuan yg karena santunnya Nasution tdk semua mau diungkap.

Jelang akhir hidupnya Nasution sempat menarik nafas, tiada lain karena “jasa Habibie” yg menjelang akhir kekuasaan Soeharto mulai berpengaruh kuat.Habibie punya hubungan erat dg Nasution via keluarganya. Adik Habibie, Sri Rezeki Soedarsono bergaul sehari hari dg Ibu Nasution di Yayasan Asuhan Bunda. Entah atas “permainan” siapa Nasution yg mulai kurang sehat dibawa ke istana menerima kenaikan pangkat kehormatan sebagai JENDERAL BESAR(Jenderal Bintang Lima) bersama alm Jen Sudirman termasuk Jen Soeharto sendiri.Pertemuan Nasution dg Soeharto dlm acara kenaikan pangkat bintang lima tulah pertemuan terakhir dg bekas anakbuah yg dikritisinya dan yg mengisolasinya. MHT 300713

Leave a Reply