KRITIK TERHADAP SBY DIBALAS SBY DG BERMAIN GITAR DAN MENCIPTAKAN LAGU.

KRITIK TERHADAP SBY DIBALAS SBY DG BERMAIN GITAR DAN MENCIPTAKAN LAGU.
Oleh :M.Hatta Taliwang

Dua hari berturut turut kita sdh membahas bagaimana dua Presiden RI (Soekarno dan Soeharto) menanggapi kritik dari Bung Hatta dan Jen Nasution. Dari situ kita bisa memetik pelajaran politik bagaimana prilaku penguasa atas kritik dari lawannya.

Hari ini saya mencoba menganalisis bagaimana SBY bersikap atas kritik kritik dari “lawan” politiknya. Selama hampir sepuluh tahun berkuasa terutama 5 tahun terakhir ini mungkin tak ada padanannya dlm sejarah politik modern Indonesia bahkan mungkin di luar negeri, bagaimana keras dan pedasnya kritik terhadap kekuasaan SBY, namun tidak membuat SBY bereaksi spontan dan membalas dg keras pula. Sby memilih bagaikan “patung” dicaci maki, dicerca, ditelanjangi, dihinakan sedemikian rupa secara terbuka oleh berbagai kalangan dan tokoh. Sby praktis bungkam. Dimasa awal Pemerintahan keduanya (Des 2009) para aktifis dan tokoh masyarakat dlm rangka Hari Anti Korupsi menggelar demo besar yg diikuti lk 20 ribu peserta, kritik kritik bertaburan dari atas mimbar demo. Sby malah kabarnya bersantai ke Bali.Padahal di arena demo ada kerbau yg ditulisi SBY.

Diawal 2010 Sby melaunching album lagunya di Taman Ismail Marzuki. SBY sebelumnya telah mengeluarkan beberapa album musiknya. SBY mempromosikan album ketiganya . Album berjudul ‘Ku Yakin Sampai di Sana’ ini memuat lagu-lagu SBY yang diciptakan dari 2007 hingga 2009 .

Sikap SBY yg terkesan tidak peduli itu membuat banyak tokoh gregetan. Tokoh lintas agama dg lantang menuduh SBY Pembohong dg merinci sejumlah kebohongannya. Bahkan dilanjutkan dg membentuk rumah pengaduan kebohongan. Tokoh militer seperti Jen Tyasno Soedarto menyatakan :”Jadi sebenarnya, SBY sudah tidak layak lagi menjadi Presiden. Dan bila DPR tidak bisa bertindak, rakyatlah yang harus bertindak untuk mengganti pemimpin nasional,” Ini pernyataan Tyasno karena gemas atas sikap SBY terhadap Malaysia. Sementra itu Mayjen Purn Saurip Kadi memberi cap SBY sbgai ULAT BULU:“Ulat bulu ini membuat gatal. Dan sayangnya ulat bulu itu adalah rekan seangkatan saya di Akabri 1973 (SBY)”
Kritik pedas terus berlanjut misalnya dari ekonom senior dan tokoh gerakan Rizal Ramli berkaitan dg kasus Century :” Sby adalah Presiden pertama yg akan dipenjara bila sdh tdk berkuasa”.
Kritik2 paling seru adalah dari akun twitter TRIO MACAN 2000. Juga dari cendikiawan seperti George Aditjondro. Yang paling aktual dan berani tentu saja dr aktifis Haris Rusly Moti(HRM), coba kita simak kritik paling gres dari HRM :
“TERNYATA 6 CIRI MANUSIA INDONESIA YG DIGAMBARKAN MUCHTAR LUBIS 35 TAHUN LALU KITA TEMUKAN SECARA SEMPURNA DI DALAM SOSOK PRESIDEN SBY.

Mari kita kupas keenam ciri manusia Indonesia menurut Muhtar Lubis tersebut di dalam sosok Presiden SBY.
Pertama, Presiden SBY sangat hipokrit & munafik, antara pernyataan & tindakan selalu berbenturan.

Kedua, Presiden SBY juga senang menyalahkan bawahannya.

Ketiga, Presiden SBY berjiwa & menyuburkan feodalisme di lingkungan Partai Demokrat.

Keempat, Presiden SBY percaya angka 9 sebagai angka keramat (takhayul).

Kelima, Presiden SBY sangat senang mengarang lagu.

Keenam, Presiden SBY sangat lemah karakter kepemimpinannya.

Bandingkan dengan Bung Karno & Pak Harto berdasarkan 6 ciri tersebut. Bung Karno misalnya, dari keenam ciri tersebut, hanya ciri artistik yg sesuai dengan karakter Bung Karno. Demikian juga Pak Harto, hanya tiga ciri yg sesuai.

Hanya Presiden SBY satu-satunya Presiden RI yg memenuhi seluruh kriteria dari 6 ciri manusia Indonesia yg digambarkan Muchtar Lubis.”
Demikian ulasan dan kritik HRM.

Justru dari partai politik yg menyebut dirinya oposisi jarang kita membaca pernyataan keras terhadap SBY.

Apakah SBY benar diam atas kritik2 yg dilakukan oleh lawan politiknya? Saya menduga SBY bekerja keras dibalik diamnya. Bagi SBY yang penting kritik kritik itu tidak membawa pada upaya serius impeachment kekuasaannya. Dia faham betul bagaimana rumitnya dan tidak mudahnya impeachment pasca amandemen UUD45. Dia menjaga agar partai di Setgab tetap solid meskipun sering bertengkar. Kekuatan kekuatan potensial melawan digarapnya lewat “operasi intelijen”. Pengalihan issu, penyogokan, bahkan bila perlu penjebakan dan penjerumusan hingga kriminalisasi ditempuh agar perlawanan “musuhnya” bisa ditaklukkan. Sehingga hari demi hari sejak demo besar 2009 tdk pernah ada lagi demo serius yg melawan SBY. Yg ada demo atau perlawanan sandiwara.Beberapa aktifis vocal berhasil “dijinakkan”,kampus yg pimpinannya terlibat/dilibatkan(?) korupsi bahkan pimpinannya sendiri menjadi “herder” mengontrol mahasiswanya. Tokoh tokoh kritis dibuatkan “kesibukan” dan tdk bisa membangun/menggalang perlawanan bersama.
Bila perlu diadu domba. Tidak berhasil dibangun perlawanan luas dan bersama serta solid. Tidak ada lagi tokoh perlawanan sentral seperti era 60,70,80,90an. Yg kecil merasa tokoh besar, yg besar tdk percaya diri karena banyak kelemahannya bisa dibeberkan ke publik oleh media atau intelijen yg beroperasi utk itu. SBY pun tdk memberi perlawanan sehingga tidak lahir martir atau pahlawan dlm berjuang menghadapi kebobrokan kekuasaannya. “Kita seperti memukul angin” kata seorang teman aktifis.”Beda klo SBY memberi perlawanan maka militansi aktifis akan terangsang”.
Angin perubahan tdk lagi berhembus kencang karena sebagian aktifis mulai sibuk jadi caleg, tokoh2 berharap jadi capres dari hasil PEMILU yg sebenarnya mereka sdh tahu tidak akan membawa perubahan apa apa karena kontrol kapitalisme global disini sdh sangat sistemik. Yg penting “kuyakin smpai 2014″ apapun caranya. Kira kira demikianlah sikap SBY yg konon bermimpi jadi Sekjen PBB pasca berakhir jabatan Presidennya di 2014. BISAkah tanpa KITA BERSAMA? Diluar “sukses SBY” meredam perlawanan dan kritik lawannya maka pertanyaan besar muncul : SBY “SELAMAT” TAPI APAKAH BANGSA INI SELAMAT DG TUMPUKAN MASALAH YG DIWARISKANNYA? MHT 310713

Leave a Reply