Mantan PERDANA MENTERI M.NATSIR dan Kekecewaannya pada rezim ORLA dan ORBA(Mengenang M.Natsir yg lahir 17 Juli 1908).

Mantan PERDANA MENTERI M.NATSIR dan Kekecewaannya pada rezim ORLA dan ORBA
(Mengenang M.Natsir yg lahir 17 Juli 1908).

Oleh :M.Hatta Taliwang

M Natsir adalah Perdana Menteri 1950/1951. Pecahnya Dwitunggal Soekarno Hatta sangat disayangkan dan disesalinya.Masuknya Pengaruh PKI ke lingkar istana dan meluasnya Pengaruh PKI pd era ORLA dg masuk dlm Kabinet /Lembaga Negara Lainnya membuat M Natsir kecewa. Juga kebijakan yg berkaitan dg perlakuan PUSAT terhadap Daerah. Mungkin hal hal itu antara lain yg memicu PRRI melakukan pemberontakan dan melibatkan beliau.

Harapan M Natsir muncul setelah diawal rezim Orba Soeharto berpidato tgl 16 Agustus 1967 : “Karena pangkal tolak demokrasi Pancasila adalah kekeluargaan dan gotong royong,maka demokrasi tdk mengenal kemutlakan golongan,baik kemutlakan karena kekuatan pisik,kemutlakan karena kekuatan ekonomi,kemutlakan karena kekuasaan , maupun kemutlakan karena besarnya jumlah suara. Kehidupan demokrasi Pancasila tdk boleh diarahkan utk semata mata mengejar kemenangan dan kepentingan pribadi atau golongan sendiri, apalagi ditujukan untuk mematikan golongan yg lain, selama golongan ini termasuk dlm warga Orde Baru,warga Pancasila dan UUD45. Azas demokrasi Pancasila sebenarnya telah diatur secara konstitusional ,ialah mengikut sertakan semua golongan yg mempunyai kepentingan dlm kehiduipan kenegaraan dan kemasyarakatan dengan jalan musyawarah untuk mufakat.”

Pidato ini sangat menyihir dan paling sering dikutip oleh Petisi 50.
Pak Nasirpun tertarik dg pidato awal Soeharto berkuasa ini.

Pak Natsir mengenang bulan madu singkat(sekitar 1966 smp awal 1968) dg rezim Orba dg kalimat ;
“Terasa dewasa itu suasana nyaman, kerjasama yg spontan dan ihlas antara semua golongan , tua muda,mahasiswa di kota dan santri di desa desa,kyai kyai dan pemimpin2 sipil dan militer semua bersanding bahu membahu mnghadapi bahaya yg mengancam negara. Letjen Sarwo Edhie yg waktu itu berpangkat Kolonel bisa menceritakan bgmana spontannya partisipasi selama ia melakukan tugas di Jateng dan Jatim.
Ali Moertopo tdk ragu ragu menghubungi Prawoto Mangkusasmito utk merundingkan bagmana merekrut tenaga tenaga dari klangan Islam guna memperkuat kalangan intelijen di Jateng.”(Dlm buku SELAMATKAN DEMOKRASI diterbitkan PETISI 50 th 1984).

Pak Natsir pun cerita bagaimana peranan Tokoh2 Islam yg msh dlm tahanan ORLA(pak Natsir mash dlm tahanan thn 1966) memperlancar perundingan membuka hubungan dg Malaysia.Bahkan ada gagasan di Seminar Angkatan Darat utk mengaktifkan kembali Partai MASYUMI dan PSI yg dibubarkan oleh rezim ORLA.

Semua kisah bulan madu itu berakhir tragis.

Sejak Soeharto resmi dilantik jadi Pesiden satu persatu partner dlm meruntuhkan ORLA ditinggalkan.Termasuk kelompok Islam. Lbh tragis lagi karena Islam masuk dlm kategori EKSTRIM KANAN yg diwaspdai ORBA.”Proyek Komando Jihad” jadi alat merepresi kelompok Islam( berlangsung smpai sekarang dg “proyek terorisme”(?). Rezim otoriter dimulai hingga berakhir 32 tahun kemudian.
Kejengkelan atau kemarahan M Natsir kepada rezim Soeharto disalurkan dg bergabung bersama PETISI 50 dimana didalamnya termasuk Jen DR AH Nasution, Kasman Singodimedjo,Letjen Mar Pur Ali SAdikin dan beberapa tokoh bangsa lainnya.

Petisi 50 adalah kekuatan oposisi paling konsisten selama ORBA sampai hari ini beberapa personnya seperti Chris Syner Key Timu tetap mengkritisi rezim SBY.
Memang kekuatan oposisi di era reformasi semakin loyo seiring berkembangnya budaya transaksional, hedonisme,pragmatisme dan individualisme. Rezim SBY makin semena mena,kelas menengah tak peduli dan rakyat tertindas makin apatis.Tak terbangun lagi kekuatan oposisi seperti di era ORLA atau ORBA. Kalau pak Natsir msh hidup maka pasti lbh besar lagi kekecewaannya menyaksikan bangsa yg makin amburadul ini. MHT 240713

Leave a Reply