MEMBANYOL ATAS ISU PENTING,MEREDEDUPKAN KEGERAMAN,MEMUDARKAN SUBSTANSI,MELEMAHKAN PERLAWANAN, KARENA ITU KONYOL ! (MHT221113)

MEMBANYOL ATAS ISU PENTING,MEREDEDUPKAN KEGERAMAN,MEMUDARKAN SUBSTANSI,MELEMAHKAN PERLAWANAN, KARENA ITU KONYOL ! (MHT221113).

Pada saat isu penyadapan sedang memuncak, saya terima banyak karikatur foto bergambar SBY sedang menyadap pohon karet. Di BBM/TWITER mungkin juga di FB beredar yg mirip begitu.

Sekitar dua tahun yang lalu ketika sedang hangatnya kasus Nazaruddin beredar karikatur foto Sutan Bhatugana mengenakan konde.Bahkan SBY dlm versi mengenakan konde juga beredar dimana mana.

Dalam batas tertentu karikatur demikian bisa menyampaikan pesan dg singkat,padat, mengena sekaligus lucu dan menggelitik.
Bisa mendegradasi kewibawaan dan martabat sang tokoh dalam sekejap.
Maka target pengirim pesan demikian bisa dikatakan tercapai.

Tapi mungkin berbeda bagi mereka yang ingin serius, membahas dan mencari solusi atas masalah masalah bangsa yang dihadapi.
Karikatur demikian bila terus diputar ditambah dengan segala kreasi plesetan, dibahas di grup diskusi, maka ujung ujungnya tak ada kesimpulan dan ruangan menjadi penuh gelak tawa yang tdk produktif. Orang orang yg hadir tiba tiba berubah menjadi kumpulan pelawak/pembanyol. Kita memproduksi pembanyol secara massif apalagi sekarang difasilitasi oleh Televisi dll.

Tradisi banyol membanyol ini mungkin telah menjadi bagian dari tradisi rakyat kita, khususnya di Jawa, dlm menghadapi tekanan hidup oleh penindasan penguasa. Segala kegetiran, kekecewaan, kepahitan “disublimasi” dlm bentuk “karya seni” berbentuk protes halus yg terbungkus kata kata lucu/jenaka. Karena tdk mampu melawan secara vulgar segala tekanan kekuasaan. Hal ini mungkin bisa menjelaskan mengapa tradisi banyolan ini berkembang biak di pulau Jawa, tetapi di luar Jawa dimasa lalu tidak banyak pelawak muncul. Mayoritas pelawak tahun 60an sd 90an berasal dari tanah Jawa.

Dengan berkembangnya teknologi komunikasi dan media sosial, maka membanyol/ melawak tidak lagi menjadi dominasi Jawa/Sunda. Telah menjadi “milik” seluruh suku dan daerah di Indonesia.

Membanyol/melucu dalam batas tertentu bisa produktif, merangsang imaginasi dan daya kreasi untuk mempengaruhi pikiran dan kecerdasan orang lain dan kecerdasan kita sendiri. Menyederhanakan pesan yang sulit sehingga mudah ditangkap maknanya.

Tetapi membanyol yang berlebihan bisa kontra produktif, apalagi klo diiringi dg plesetan plesetan yg liar, maka pesan pokok(substansi) kehilangan makna dan terlupakan.
Bila semua orang membanyolkan isu isu strategis bangsa ini, maka siap siaplah menjadi bangsa yg konyol. Tidak dihargai bangsa lain.
Maka menurut saya membanyol itu “harus” terbatas pada isu isu tdk strategis, diruang terbatas, dilakukan antar teman yg sdh familiar. Jangan memproduksi manusia konyol secara massif!

Leave a Reply