MEWASPADAI PERUBAHAN POLITIK

MEWASPADAI PERUBAHAN POLITIK
Oleh : M.Hatta Taliwang

Sebuah tulisan menarik beredar beberapa waktu yang lalu dg judul
“PAK HARTO DAN MISTERI KEMELUT 1998″, menyimpulkan bahwa aktor atau kepentingan yg bermain dalam kejatuhan Soeharto tahun 1998 adalah :
Pertama, kelompok-kelompok kepentingan internasional dengan agenda pengendalian potensi-potensi strategis dan sumberdaya ekonomi Indonesia.

Kedua, para simpatisan PKI yang sedang memperoleh momentum memperbaiki nama baik dalam percaturan perpolitikan bangsa.

Ketiga, kalangan pragmatis yang tidak ingin tersingkir dalam tatanan masa depan Indonesia pasca kepemimpinan Presiden
Soeharto. Avonturisme Kelompok Pragmatis merupakan pelaku ekonomi, politisi maupun elit pemerintahan yang sebenarnya diuntungkan oleh pemerintahan Orde Baru— namun dihinggapi kekawatiran eksistensinya tereliminasi dalam tatanan politik pasca kepemimpinan Presiden Soeharto.

Keempat, kalangan reformis yang mengusung agenda perubahan sistem perpolitikan bangsa kearah demokratisasi dan desentralisasi penyelenggaraan pembangunan.

Kelima, Presiden Soeharto sendiri yg ingin memastikan penanganan krisis ekonomi tidak terganggu oleh krisis politik yang dapat menyebabkan terputusnya agenda tinggal landas beserta capaian-capaian prestasinya.

Membaca tulisan tsb kita tentu memberi catatan bahwa secara umum tulisan tsb dpt “memandu” kita untuk memahami skenario atau perubahan yg akan terjadi ke depan pasca kepemimpinan SBY meskipun tdk akan sama persis.

Catatan berikutnya menyangkut peranan PKI yang sampai sekarang msh penuh perdebatan tentang perannya dlm G 30 S 1965 dan kaitan dg upaya sisa sisa pendukungnya untuk mendongkel Soeharto thn 1998. Bagian ini msh bisa diperdebatkan.

Catatan lainnya adalah tulisan tsb disajikan sbg upaya utk memberi pesan betapa Soeharto menyesali nasib Indonesia tergelincir dlm arus reformasi yg kebablasan ini.

Betapapun ada sisi “debatable” dari tulisan tsb kita harus angkat topi atas analisisnya yg dpt membantu kita menganalisis arah perubahan politik ke depan.

Yang penting kita perhatikan kedepan hemat kami adalah

1. Dengan begitu besarnya masalah yg dihadapi SBY jelang akhir kekuasaannya maka tanda tanya yg muncul adalah : apakah SBY akan “memaksakan” agar dinastinya akan meneruskan tongkat kepemimpinannya? Apakah akan mampu hadapi arus besar tuntutan penegakan demokrasi yg lbh berkualitas dari pesaing2 politiknya/oposisi?

2.Peran kapitalis global dengan “preman” dan ” antek anteknya” yg ingin tetap mengendalikan dan makin mencengkeram RI tentu tak bisa diabaikan. Kelompok ini selama 10 tahun terakhir ini makin “mendikte” melalui kebijakan Bank Dunia/IMF/ADB dan Perjanjian2 WTO dll. Mereka mungkin sdh punya detail arah “perubahan” Indonesia ke depan termasuk pasangan capres yg akan dijagokan, yg bisa saja berimpit dg kepentingan SBY. Ini tergantung dinamika dlm beberapa bulan ke depan.

3.Peran kalangan pragmatis (pengusaha/politisi/aktifis dll) yg akan jadi “kutu loncat” dlm perubahan politik yg tdk ingin tereliminasi dlm perubahan pasca SBY tentu akan cermat membaca peta. Kemana angin berembus msh mereka intip. Termasuk pola perubahan apakah akan terjadi melalui Pemilu atau melalui “cara lain” pasti mereka sedang cermati.

4. Kelompok PERUBAHAN sendiri sejujurnya msh lemah dlm banyak hal. Belum ada tawaran komprehensif tentang arah bangsa yg diinginkan, belum tampak TOKOH KUAT yg punya magnet besar yg dipercaya, dll. Meskipun ada konsep, ada figur dll namun faktor MEDIA MASSA UTAMA (Televisi besar, koran besar) yg dikuasai pemilik modal tidak akan memberi tempat secara ihlas kepada tokoh2 tsb untuk tampil menjadi kekuatan alternatif.

Jadi apa yang akan terjadi dg nasib Indonesia ke depan? Keluar dari mulut buaya masuk mulut crocodile? Wallahualam.MHT 190813

Leave a Reply