NEOFEODALISME DAN NEOKAPITALISME SAMA SAMA MENINDAS RAKYAT !

(1)NEOFEODALISME DAN NEOKAPITALISME SAMA SAMA MENINDAS RAKYAT !

Oleh ; M.Hatta Taliwang

Kalau dirunut pakai nalar awam, orang kuno dulu berkuasa(mendapat/merebut) karena kekuatan pisik ala preman sekarang. Dari situ muncul pengaruh dan banyak pengikut berlandaskan manajemen kekerasan. Utk memperkuatnya maka si jagoan itu merasa perlu menambah dg kekuatan “spritual” dg rajin bertapa dll. Pengaruhnya makin meluas apalagi disekelilingnya makin mendewakannya dg berbagai bentuk penghormatan dan penyembahan serta berbagai cerita tentang kesaktian dan keberanianya.Muncullah mitos mitos tentang “si kuat” tadi. Proses2 sosial mengantarnya menjadi figur central yg akhirnya memunculkannya de facto menjadi Penguasa dg wilayah pengaruhnya menjadi the facto wilayah kekuasaannya. Sejak itulah terjadi relasi antara yg memerintah dan yg di perintah. Antara Tuan dg hamba. Lewat proses sejarah yg panjang terbangunlah aturan2 main dlm kerajaan, tradisi2 di kerajaan yg sekarang kita kenal.
Kira2 demikianlah feodalisme itu lahir dan besar sehingga kawan saya Salamuddin Daeng menyederhanakan feodalisme itu sama dg : numpuk harta(emas, tanah),numpuk isteri/gundik, numpuk barang antik. Dlm fenomena modern sy tambahkan : numpuk gelar,numpuk kekuatan dan kekuasaan. Dari sini hemat kami kita bisa melihat bahwa TITIK TEMU/KESAMAAN antara FEODALIS dan KAPITALIS adalah pada KESERAKAHAN. Feodalis adalah keserakahan tradisional yg terbangun dg sistem kekuasaan ala kerajaan sementara Kapitalis adalah keserakahan pemilik modal dg kerajaan bisnisnya. Dua duanya “merebut milik orang lain baik dg cara halus mapun kasar”. Keserakahan utk merebut dan menguasai milik orang lain (kerajaan lain, tanah orang lain, bangsa lain dll) itulah yg melahirkan KEMISKINAN MASSAL, PENINDASAN, EXPLOITASI. Sehingga tdk perlu lg dikotomi bahwa feodalisme atau kapitalisme sbg penyebab lahir kemiskinan massif. Kapitalis melahirkan feodalisme modern yg angkuh atau sebaliknya feodalis melahirkan kapitalisme kejam. Dua duanya SERAKAH dan MENYENGSARAKAN banyak orang. Sistem dan nilai inilah yg kita saksikan terjadi di Indonesia sekarang baik pada tingkatan nasional maupun lokal.Neokapitalis dan neofeodalis secara simultan mencengkeram rakyat.Lalu Demokrasi mau kemana?
(Jakarta 19 Juni 2012/Renungan Setahun Lalu).MHT

(2)
FEODALISME BERLABEL AGAMA
Oleh : M.Hatta Taliwang

Seorang kawan yg lama dididik di pesantren “buka kartu” ke saya.
Sejak awal jadi santri sdh diindoktrinasi untuk patuh dan taat pada uztad terutama uztad yang dianggap paling berkuasa (Pendiri/Pemilik) Pondok. Maka secara otomatis mayoritas santri memberi penghormatan lebih(berlebihan?) pada Sang Uztad.

Secara etis kita tidak ingin mengintervensi atas aturan dan sistem yang berlaku dlm dunia pendidikan pesantren. Itu pilihan mereka dan tentu itu keyakinan bahwa sistem itu brnilai baik bagi pondok mereka.

Yang tidak saya duga adalah kesetiaan pada uztad itu berlanjut sampai mereka sudah lulus dan bahkan sampai mereka menjadi warga masyarakat, turun temurun.

Itu tentu saja sangat baik dan mulia klo Sang Uztad yang dipatuhi itu benar benar manusia amanah dan patut jadi teladan. Namun klo sang Uztad yang disanjung itu dlm realitasnya tdk lbh istimewa dari manusia lainnya : senang pada benda keduniawian, (maaf) senang “mengoleksi” perempuan, senang mobil mewah, senang rumah/apartemen bagus, bergairah merebut kekuasaan baik sebagai caleg atau cabup. Apalagi klo mendapat kekuasaan sama serakah dan korupsinya dg pemimpin lain yg tidak berlatar pendidikan pesantren maka dasar apa yang membuat santri/bekas santri harus patuh dan taat? Bukankah khalifah Abu Bakar berpesan kepada pengikutnya agar hanya taat kepadanya selagi ia pada jalan kebenaran?

Kepatuhan pada sang Uztad berlebihan bukan hanya terjadi pada kalangan awam tapi terjadi pada mereka yang berpendidikan tinggi dan intelektual. Segala kesalahan yg tampak nyata yang diperbuat uztad menjadi kabur dimata mereka. Akal sehat mereka tdk bekerja bila menyangkut kelemahan atau kesalahan sang uztad.
Lalu dlm situasi demikian peran kritis masyarakat macam apa yang dapt di perbuat ,bila daya kritis telah dikalahkan oleh “kharisma” sang uztad ? Betapa rawannya bila sang uztad yg msh cinta dunia itu menjadi eksekutif pemerintahan, dlm sistem yg dikendalikan pemilik modal.Keserakahan makin menjadi sementra kontrol masyarakat makin lemah. Mau kemana demokrasi Indonesia? MHT 230613

Leave a Reply