PAKTA INTEGRITAS DAN KISAH SULTAN YG DILILIT LEHERNYA SAMPAI MATI.Oleh : M.Hatta Taliwang

PAKTA INTEGRITAS DAN KISAH SULTAN YG DILILIT LEHERNYA SAMPAI MATI.
Oleh : M.Hatta Taliwang

Buton adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah tenggara Pulau Sulawesi. Pada zaman dahulu di daerah ini pernah berdiri kerajaan Buton yang kemudian berkembang menjadi Kesultanan Buton.Tercatat dua Fase :1. Masa Pemerintahan Kerajaan sejak tahun 1332 sampai pertengahan abad ke – 16 dengan diperintah oleh 6 (enam) orang raja.2. Masa Pemerintahan Kesultanan sejak masuknya agama Islam di Kerajaan Buton pada tahun 948 Hijriah ( 1542 Masehi ) bersamaan dilantiknya Laki La Ponto sebagai Sultan Buton I dengan Gelar Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul Khamis.

Saat pelantikan, sultan terpilih membuat sumpah untuk menjalankan UU negara yang disebut Murtabat Tujuh , dan menerima konsekuensi digantikan atau bahkan kehilangan nyawa bila melanggar UU tersebut.Bahkan setiap sultan berjanji untuk tidak lagi tidur dengan permaisuri demi menghindari lahirnya putra mahkota saat mereka bertahta. Karena bila sampai lahir seorang putra, maka kesultanan tidak lagi melalui proses demokrasi melainkan diwariskan kepada keturunannya.
Meskipun Buton berbentuk kesultanan, namun demokrasi memegang peranan penting dalam struktur pemerintahannya. Pemilihan sultan bukanlah berdasarkan keturunan namun dipilih oleh Siolimbona, dewan yang terdiri dari 9 orang penguasa dan penjaga adat Buton.

FALSAFAH YANG MENJADI LANDASAN ATURAN KESULTANAN ADALAH sbb :
1). Bholimo arataa somanamo karo, artinya: Korbankanlah kepentingan harta benda asalkan diri (pribadi/rakyat) selamat.

2). Bholimo Karo Somanamo Lipu, artinya: Korbankanlah kepentingan diri (pribadi/rakyat) atau karo, asalkan lipu (negara) slamat.

3). Bholimo lipu somanamo sara, artinya: Korbankanlah kepentingan negara (lipu) asalkan pemerintah (sara) selamat.

4). Bholimo Sara Somanamo Agama, artinya: Korbankanlah kepentingan sara atau pemerintah asalkan agama selamat. Atau, biarlah kepentingan sara dikorbankan demi menyelamatkan agama Allah (Islam).
Aturan2 tsb tentu dlm konteks kesultanan dlm keadaan darurat.

Falsafah,etika dan aturan aturan di Kesultanan Buton sangat keras dijalankan. Hal ini terlihat dari ke 38 orang sultan yang memerintah di Buton , 12 orang menyalahgunakan kekuasaan dan melanggar sumpah jabatan dan satu diantaranya yaitu Sultan ke – VIII La Cila Maradan Ali (Gogoli yi Liwoto 1647–1654), diadili dan diputuskan untuk dihukum mati dengan cara leher dililit dengan tali kemudian kedua ujung tali itu ditarik ke kiri dan ke kanan hingga wafat. sampai meninggal yang dalam bahasa wolio dikenal dengan istilah digogoli.Inilah PAKTA INTEGRITAS sesungguhnya!MHT

Leave a Reply