PARTAI ISLAM RIWAYATMU KINI

PARTAI ISLAM RIWAYATMU KINI
Oleh : M.Hatta Taliwang

Secara sederhana Partai Islam adalah partai berbasis massa Islam atau berideologi Islam.
Para peneliti mengidentifikasi PPP,PKB, PKS, PBB dan PAN sebagai partai Islam. Sebenarnya PAN awal berdirinya 1998 adalah partai TENGAH (nasionalis).Sejak kongres Jogja 2000, PAN masuk kategori partai Islam.

Survei terakhir atas partai Islam menunjukkan indikator SURAM. Dari berbagai sumber survey terakhir (IRC,PDB,LSN) semua partai Islam dibawah 5% (RM 19 Juli hal 7).
Pada survey bulan Oktober 2012 yl jg hasilnya tdk jauh berbeda baik yg dilakukan LSI maupun LSN. Selalu dibawah 5 persen bahkan ada yg terancam tergusur dari Senayan.
Soal survey dan hasilnya bisa diperdebatkan.Pihak partai Islam bisa adu argumentasi. Tp lbh penting melakukan introspeksi.
Yang jelas partai Islam dari masa ke masa makin melorot.
Pada Pemilu 1955 parpol Islam memperoleh 43,7 persen. Pada 1999 menurun menjadi 36,8 persen. Pada Pemilu 2004 suara partai Islam menurun lagi menjadi 36,1 persen. Pada 2009 suara parpol Islam semakin melorot menjadi 23,1 persen. Jika saat ini digelar Pemilu maka perolehan suara Parpol Islam hanya 21,1 persen. Itu fakta dan ramalan.

Secara ekonomi politik kemerosotan partai Islam pada tingkatan makro adalah karena sistem ekonomi politik rezim yg berkuasa sejak orde baru telah berhasil menyingkirkan Islam sebagai sebuah kekuatan politik dan ekonomi.Kebijakan neoliberalisme yg outputnya antara lain memiskin mayoritas rakyat telah berimplikasi luas terhadap basis ekonomi dan politik kaum mayoritas khususnya Islam. Kekuatan ekonomi dan politilk kelompok Islam memang termarginalkan seiring melemahnya kekuatan ekonomi politik kaum bumi putera. Ini analisis makro yg tdk perlu dipandang sbg hal yg sensitif apalgi rasialis atau SARA. Karena klo kita mau membangun bangsa secara sehat hal hal begini tdk perlu disembunyikan.Sama dg ketika kaum minoritas berteriak tentang ketidak adilan perlakuan terhadap mereka, kitapun peduli.

Diluar faktor makro ekonomi politik tsb maka keterpurukan partai Islam adalah karena antara lain :

Pertama.semakin kentalnya fenomena ‘Islam yes’ dan partai ‘Islam no’.
Mayoritas muslim tak ingin politik nasional beraroma agama.
Ini mungkin termasuk “suksesnya”
Nurcholish Madjied (alm) dalam sosialisasi pemikirannya.

Kedua ,seiring melemahnya kekuatan ekonomi politik kelompok Islam maka pendanaan politik partai Islam pun melemah.
Mau beriklan saja pasti masalah

Ketiga, partai Islam tdk memiliki media massa yang kuat. Semua media massa utama dikendalikan partai nasionalis.

Keempat, “proyek terorisme” yg menyudutkan Islam telah berhasil menancap dlm alam bawah sadar pemilih bahwa yg berbau Islam itu “berbahaya”.

Kelima, tindakan yg dipersepsi “brutal” yang mengatasnamakan Islam oleh kelompok-kelompok tertentu membawa dampak pada apa saja yg berlabel/simbol Islam .

Keenam, partai nasionalis semakin akomodatif terhadap kepentingan kelompok Islam. Banyak aktifitas keislaman yg dilakukan partai berlabel nasionalis yg karena kekuatan media massanya berhasil menarik perhatian kaum muslim.

Ketujuh, Tokoh tokoh yg memimpin partai Islam belum kuat daya magnetnya terhadap massa pemilih antara lain karena kendala kendala yg disebut diatas. Jadi antara tokoh dg partai masalahnya sudah seperti telor dg ayam. Tdk tahu mana yg hrs dibenahi duluan.

Untuk bicara tawaran solusinya barangkali tdk cukup waktu dan tempat diforum ini.

Apakah partai Islam akan tinggal kenangan atau akan jadi monumen atau masuk museum seperti yg ditulis RM, sejarahlah yg akan membuktikan kelak. MHT 190713

Leave a Reply