PEMILU, ANTARA BISNIS MENGGIURKAN DENGAN KEPENTINGAN STRATEGIS BANGSA

PEMILU, ANTARA BISNIS MENGGIURKAN DAN KEPENTINGAN STRATEGIS BANGSA.
Oleh : M.Hatta Taliwang

Banyak orang skeptis atas Pemilu yang akan diselenggarakan tahun 2014. Yang kritis menilai bahwa Pemilu cuma kalender rutin memperpanjang cengkeraman rezim antek kapitalis global untuk terus menguras sumberdaya alam dan sumber daya ekonomi Indonesia. Pemilu 2014 cuma sebuah seremoni daur ulang bagi sebagian besar petualang2 (tanpa mengurangi rasa hormat pada caleg yg jujur/ berniat tulus) yg akan mengisi lembaga lembaga strategis bangsa.Dimata mereka yg kritis Pemilu cuma pemborosan, adalah buang waktu, tenaga dan biaya karena para koruptor/manipulator itu itu juga yg mayoritas akan mengisi lembaga legislatif.
Mereka ingin perubahan. Ingin aturan2 main dlm Pemilu dirubah dulu, partai2 harus dibenahi dulu agar bisa melahirkan kader bangsa yg berintegritas, memiliki kapasitas dan kapabilitas dg partai yg jelas visi kenegarawan bagi kemajuan bangsa.Bukan partai dan anggota legislatifnya yg oportunis dan transaksional. Barulah mereka yg kritis mau ikut Pemilu. Karena dg aturan main yg sekarang sangat diyakini tak akan ada yg berubah. Rezim yg lahir tetap rezim boneka dan Indonesia akan makin terpuruk . Yg miskin akan makin menggila jumlahnya dan pengangguran tetap berbaris panjang.

Tetapi siapa yg mampu mengerem laju agenda rezim ini? Pemilu/Pilkada/Pilpres adalah bisnis besar dan menggiurkan. Melibatkan kepentingan hampir separuh penduduk Indonesia.Untuk Pilkada dana Pemerintah yg tersedot lk antara 20 sd 30 triliun, sedangkan utk Pemilu lk 15 sd 20 triliun ditambah Pilpres bila 2 putaran bisa mencapai 15 triliun. Jadi dana Pemerintah yg akan berputar pada event tsb bisa mencapai lbh dr 50 triliun. Belum termasuk biaya individu yg dikeluarkan oleh para caleg. Untuk caleg pusat kisarannya antara 2 sd 5 miliar perorang.Sehingga Pemilu adalah bisnis ratusan trilliun. Maka tidak heran para pengusaha kaos, cetakan, media massa, timsukses,pihak keamanan,pengacara, dll akan menyambut. antusias penyelenggaraan Pemilu. Dan para caleg sendiri dengan berbunga bunga harapan mereka akan mengikuti kontestasi ini, tanpa memikirkan secara rasional apa manfaat mendasar dari mengikuti seremoni Pemilu dg sistem yg diterapkan sekarang.
Saya sendiri tetap risau atas agenda rutin demokrasi liberal yg transaksional ini. Pekerjaan sia sia ataukah akan membawa perubahan bagi nasib bangsa?MHT 180713

Leave a Reply