PERISTIWA 17 OKTOBER 1952 DAN TERSINGKIRNYA AH NASUTION

PERISTIWA 17 OKTOBER 1952 DAN TERSINGKIRNYA AH NASUTION
Oleh : M.Hatta Taliwang

Bermula dari kasak kusuk Kol Bambang Supeno yg sering langsung “melaporkan” banyak masalah internal Angkatan Perang RI ( sebutan utk ABRI dimasa awal thn 50an dibawah sistem politik Parlementer). Kasak kusuk Kol B Supeno ini menyangkut issu : reorganiasi tentara, rencana Kasad AH Nasution mengikuti pendidikan/study banding ke luar negeri dan berimplikasi pd penggantiannya sbg KASAD, rencana Kol Bambang Sugeng menjadi atase militer di India, sinyalemen bahwa Kementrian Pertahanan menjadi “sarang PSI(Partai Sosialis Indonesia”, dugaan terjadi korupsi dlm pembelian kapal “Tasikmalaya” yg tdk melibatkan Dephub dan AL, dan banyak lg issu lain yg berkaitan dg Perwira di Daerah.

Sepak terjang Kol Bambang Supeno ini membuat risau corps Angkatan Darat sehingga dilakukan beberapa pertemuan “kolegial” yg salah satunya dipimpin oleh Kolonel paling senior Gatot Soebroto. Pertemuan dihadiri lbh kurang 18 perwira dan hampir bulat menyimpulkan bahwa apa yg dilakukan Kol Bambang Supeno menyalahi prosedur karena masalah tersebut tdk berproses melalui atasannya (KASAD) Kol AH Nasution, KASAP Gen May TB SImatupang dan Menhan Sri Sultan HB IX. Bambang Supeno langsung ke Presiden dan Parlemen.(Saat itu diduga Kol B Supeno dianggap sangat dekat dg Partai Nasional Indonesia/PNI).

Atas sikap Kol B Supeno yg “mbalelo” itu KASAD Kol AH Nasution memberhentikan anak buahnya tersebut (ada yg menyebut skorsing).

Kol B Supeno yg punya juga pendukung di AD seperti Kol Suhud dll melakukan “perlawanan” dg mengadukan masalah ini ke Presiden dan Parlemen.

Sejak itulah sepanjang hari di bulan Juli 1952 Parlemen diramaikan dg issu “pertempuran” Kementrian Pertahanan (Menhan,KASAP,KASAD) disatu pihak melawan sebagian besar anggota Parlemen yg dibela oleh media massa khususnya koran Merdeka.
Pada tingkatan politik Kemhan kalah dlm opini karena melawan politisi dan opini sebagian media dan banyak selebaran gelap.

Dipihak tentara yg waktu itu panglimanya masih rata rata 30 tahun terasa tidak tahan lagi hadapi cercaan politis. Sampai sampai Kol Gatot Soebroto mengeluarkan kata kata ketus : “Mereka(maksudnya parlemen) atau kita (tentara) yg bubar!”
Memang dikalangan sebagian perwira ada kejengkelan atas DPRS yg lahir sbg salah satu “produk” Konprensi Meja Bundar tsb. Apalagi akhir2 ini sikap parlemen dipandang sdh terlalu jauh setelah adanya mosi tidak percaya dari Komisi(Panitya)Pertahanan DPR yg dimotori Baharuddin yg antara lain menyatakan : “Tidak percaya atas kebijaksanaan Menhan dlm menyelesaikan pertikaian yang ada dlm Angkatan Perang”

Menghadapi kemelut ini perwira2 Angkatan Darat menyusun strategi dg membuat langsung statemen apa yg dikenal sbgai : PERNYATAAN PIMPINAN ANGKATAN DARAT, yg ditanda tangan 5 Kolonel(termasuk Nasution,Simbolon,Kawilarang,Sadikin dan Gatot Soebroto) dan 11 Letkol(ada nama S Parman dan Soeprapto korban G 30S) dan diantar langsung ke Presiden Soekarno di istana pada tanggal 17 Oktober 1952. Inilah peristiwa yg sering diplesetkan seolah KUDETA.Padahal intinya cuma minta DPRS dibubarkan karena terlalu jauh mencampuri urusan internal tentara/Angkatan Perang.
Hari itu Bung Karno meminta agar pernyataan sikap tentara itu tidak disiarkan tetapi dg sigap memperhatikan seluruh aspirasi tentara. Termasuk akan segera gelar PEMILU. Memang ada bumbu bumbu demonstrasi hari itu yg dimotori Kol Mustopo yg sangat jengkel dg sbagian anggota parlemen yg dianggap tdk jelas jasanya dlm merebut kemerdekaan.Karena pernyataan tentara ini tdk disiarkan itulah sebabnya dimasyarakat luas berbagai interpretasi atas peristiwa tersebut dan menggelinding bagai bola salju sehingga Kol AH Nasution melepas jabatan KASAD nya yang pertama (kelak di tahun 1955 Bung Karno memanggil kembali Nasution menjabat KASAD utk kedua kalinya). Banyak pelajaran politik yg bisa diambil dr peristiwa 17 Oktober 1952. Bagi yg belum membaca naskah PERNYATAAN PIMPINAN ANGKATAN DARAT ataupun MOSI TIDAK PERCAYA BAHARUDDIN bisa lihat dlm buku aotobiografi DR AH Nasution jilid 3 MEMENUHI PANGGILAN TUGAS hal 163. MHT 210713

Leave a Reply