PILPRES : KAMPANYE HITAM ATAU FAKTANYA YG HITAM?

PILPRES : KAMPANYE HITAM ATAU FAKTANYA YG HITAM
Oleh : M.Hatta Taliwang

Baru beberapa hari deklarasi capres dg pasangannya dunia mass media atau sosmed dipenuhi info atau broadcast(bc) yang isinya saling menuduh, saling mencerca, saling menghitamkan(black campaign). Dunia sosmed penuh intrik dan saling hajar menghajar. Saya mohon maaf ke timses atau fans masing masing capres, saya turunkan sekedar contoh info/link yang memuat apa yang oleh masing masing pihak yg disebut sbg blackcampaign sbb:

http://hukum.rmol.co/read/2014/05/20/156022/1/Ada-Jenderal-Tekan-Jaksa-Agung-untuk-Selamatkan-Jokowi

R Siapa bilang Jokowi Tidak Korupsi? Ini buktinya !
http://kabarnet.wordpress.com/2013/12/27/astaghfirullah-ternyata-jokowi-seperti-itu

http://m.rimanews.com/read/20140430/149426/peneliti-kkn-jusuf-kalla-era-presiden-gus-dur-bisa-dilaporkan-ke-kpk-cawapres

Gandeng JK, Jokowi disebut melawan visi Revolusi Mental
http://jurnalpatrolinews.com/2014/05/19/gandeng-jk-jokowi-disebut-melawan-visi-revolusi-mental/
http://www.gatra.com/pemilu-capres/50465-agum-gumelar-dan-keluarga-korban-1998-tolak-prabowo.html

http://celotehpemilu.com/ini-dia-49-fakta-keterlibatan-cawapres-hatta-rajasa-dalam-korupsi-kereta-hibah-jepang/

Dengan info/data seperti diatas maka pertanyaannya, itu kampanye hitam atau fakta hitam yg sedang melilit para capres/cawapres kita?

Padahal fakta hitam tentang PILEG yg baru berlangsung yg penuh kejahatan, penuh penipuan serta kebusukan telah DIHALALKAN oleh KPU dan kita menutup mata atas semua peristiwa tersebut. Dengan dasar itu pula kita akan MENGHALALKAN PILPRES yg diikuti oleh peserta yg masih bermasalah didukung partai partai yg membutakan diri atas kejahatan PEMILU.

Sebenarnya kita sedang membangun bangsa atau sedang merusak bangsa secara massif dg cara begini?
Klo dulu orang memilih pemimpin antara yg baik dg yg kurang baik, lalu bergeser dari yg buruk ke yg kurang buruk, lalu kita akan masuk ke era memilih penjahat mana yg lbh menguntungkan?

Saya yakin pertanyaan kami diatas akan dicemooh sebagai orang yg sok idealis, tidak realistis dan utopis. Bagi kami tidak apa apa dan yg penting kami akan selalu suarakan bahwa output demokrasi liberal yg sangat tidak sesuai dg akar budaya bangsa, adalah seperti yg pernah dicurhatkan oleh Bung Karno : ” demokrasi liberal adalah politik rongrong merongrong, rebut merebut, jegal menjegal dan fitnah memfitnah.
Berilah bangsa kita satu demokrasi yang tidak jegal – jegalan. Sebab demokrasi yang membiarkan seribu macam tujuan bagi golongan atau perorangan akan menenggelamkan kepentingan nasional dalam arus malapeta.” ujar Presiden Soekarno dlm pidatonya tahun 1957 dua tahun sebelum Dekrit Presiden 5 Juli 1959 utk kembali ke UUD45.

Kami dan kawan kawan dari Forum Nasional Penegak Kedaulatan Rakyat (FNPKR) pernah tawarkan solusi atas masalah bangsa ini dg jalan Musyawarah Mufakat dlm wujud Sidang Istimewa MPR/S atau Kongres Rakyat Indonesia. Bahkan dengan rincian tatacaranya. Namun tampaknya bangsa ini memang lebih memilih cara yg akan menghantarkan bangsa ini kearah yg lebih menuju konflik dan perpecahan. Kelirukah kami? Sedang mengigaukah kami? Maafkan klo kami keliru.MHT210514.

Leave a Reply