POROS MARITIM, JOKOWI MENARI DIGENDANG TIONGKOK?

POROS MARITIM, JOKOWI MENARI DI GENDANG TIONGKOK ?*)
Catatan : M.Hatta Taliwang
Dir Insitut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH).

Jalur Sutra adalah nama yang diberikan seorang Jerman bernama von Richthofen pada Abad-18M, untuk jalur darat yang menghubungkan Cina dengan Eropa. Sekalipun baru dibuka resmi pada Abad-3 SM, di masa Dinasti Han yang mulai mengirim utusan ke berbagai negara Asia Selatan dan Timur Tengah, namun Jalur Sutra sudah ada jauh sebelumnya. Jalur Sutra terdiri dari banyak jalur yang bercabang-cabang, dan digunakan untuk perdagangan berbagai komoditi selain sutra seperti gading, tanaman, emas. Secara garis besar terdapat tiga jalur, di utara, tengah dan selatan.

Jalur Utara menghubungkan Cina dengan Eropa hingga Laut Mati, melalui Urumqi dan Lembah Fergana.

Jalur Tengah menghubungkan Cina dengan Eropa hingga tepian Laut Meditrrannia, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia.

Jalur Selatan menghubungkan Cina dengan Afghanistan, Iran dan India, melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. Di Cina, Jalur Sutra berujung di Changan atau Xian, ibukota kerajaan, ke arah barat melewati koridor Gansu, menuju Dun-huang di sisi Gurun Taklimakan.

Dinasti Han (206 SM – 220) yg memelopori jalur sutera ini adalah satu dari tiga dinasti yang paling berpengaruh di China sepanjang sejarahnya. Dinasti ini meletakkan dasar-dasar kebangsaan China mewarisi penyatuan China dari dinasti sebelumnya, Dinasti Qin. Dinasti Han sendiri didirikan oleh Liu Bang, seorang petani yang memenangi perang saudara dengan saingannya, Xiang Yu. Dinasti Han merupakan salah satu dinasti terkuat di China, dan disebabkan pengaruhnya yang besar, etnik-etnik majoritas di China sekarang ini menyebut diri mereka orang Han (walaupun mungkin nenek moyang mereka bukan dari etnik Han).

Menghidupkan kembali rute perdagangan jalur sutra menjadi ambisi jangka panjang Presiden Tiongkok sekarang, Xi Jinping yang telah dimulai tahun lalu.

Xi membagi jalur sutra menjadi dua, darat dan maritim.
Jalur darat akan menghungkan Tiongkok ke Asia Tengah, Asia Timur hingga Eropa.

Sementara Jalur Sutra Maritim akan menghubungkan pelabuhan Tiongkok ke perairan Samudra Hindia, Teluk Persia, Laut Merah hingga Teluk Aden.

Di Indonesia, Jalur Sutra Maritim Tiongkok akan melewati Selat Sunda yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera serta menghubungkan Samudera Hindia dan Laut Jawa, dan Selat Karimata diantara Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera yang juga menghubungkan Laut Jawa dan Laut China Selatan.

Program ini menurut berbagai sumber sudah disosialisasikan oleh Pemerintah RRC sejak setahun lalu jauh sebelum Jokowi terpilih sebagai Presiden RI.

Maka ketika Jokowi pidato di Tiongkok dan Myanmar tentang tol laut dan ambisi Indonesia menjadi POROS MARITIM DUNIA, pertanyaan yg muncul apakah ini program orisinil Jokowi atau program yg “menari di gendang RRC?”.

Tidak heran banyak kalangan yg wanti wanti agar Program Poros Maritim/Tol Laut itu jangan sampai cuma jadi pelengkap penderita dari program pihak RRC sehingga kepentingan nasional Indonesia malah dikorbankan.
Ambisi RRC untuk ” menguasai laut” ini demi kpentingan ekspansi perdagangannya luar biasa dahsyat. Terakhir kita baca bahwa utk menghidupkan jalur sutra darat dan jalur sutra laut RRC menyiapkan dana antara 40 sd 50 milyar USD.
RRC juga menyiapkan lembaga perbankan untuk mendanai proyek proyek tsb dengan mendirikan Bank Investasi Infrastruktur Asia
(AIIB) yg sahamnya mayoritas dikuasai RRC, yg bisa menyaingi Bank Dunia atau Asian Development Bank(ADB).
Terakhir kita membaca RRC bekerjasama dg Pemerintah Nikaragua membangun proyek TERUSAN sepanjang 200 KM bernilai 50 milyar USD yg akan menyaingi TERUSAN PANAMA.

Setahap demi setahap RRC akan menjelma jadi kekuatan dunia nomor wahid dlm bidang kemaritiman. Indonesia harus pandai pandai menempatkan diri agar tidak cuma jadi pelayan maritim yg tidak diperhitungkan. MHT 23/12/14. *)Diolah dr berbagai sumber.