PRESIDEN PARTISAN

PRESIDEN PARTISAN
Oleh : M.Hatta Taliwang

Seandainya kita boleh membalik adagium populer yg diucapkan oleh Presiden AS J F Kennedy, maka dlm kasus SBY terpilih menjadi Ketum Partai Demokrat mungkin akan berbunyi : My loyalty to my country ends where my loyalty to the party begins (kesetiaan kepada negara berakhir ketika kesetiaan kepada partai dimulai). Ini peristiwa unik. Kebanyakan Presiden di negara demokrasi terpilih lewat partai, kemudian menjelma menjadi negarawan yg kesetiaannya pada negara menjadi yang utama. Bukan sebaliknya.

Dalam kasus Megawati pun demikian, menjadi Ketum Partai baru menjadi Presiden.
Kecuali di negara tertentu seperti Kuba Presiden merangkap Ketua Partai yg sekarang disandang oleh Raul Castro.

Fenomena SBY ini mirip dg yg terjadi pada Presiden Taiwan
Ma Ying-jeou yang merangkap sebagai ketua partai berkuasa, partai Kuo Min Tang (KMT). Maksudnya setelah Ma Ying-jeou menjadi Presiden Taiwan barulah muncul usulan keputusan merangkap sebagai Ketua Partai.
Namun berbeda alasan dan situasinya. Kalau SBY karena terjadi kemelut dan skandal di Partainya, pada kasus Presiden Taiwan karena memang ada kesepakatan dg anggota legislatif demi efektifitas Pemerintahan.
Di mata publik, rangkap jabatan dirasakan lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya. rentan melahirkan konflik, dapat mengaburkan batas pelaksanaan jabatan negara dan parpol, mengutamakan kepentingan partai ketimbang kepentingan bangsa dan negara.
Belum lg rawan terjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yg sdh banyak buktinya
Menyambut terpilihnya SBY teman aktifis menulis dg sinis : “SBY mundur saja sebagai Presiden . Fokus saja tegakkan Tri Panji SBY:
1. Urus keselamatan diri SBY sendiri. 2. Urus keselamatan keluarga SBY. 3.Urus keselamatan Partai Demokrat.
Lupakan tanggungjawab terkait nasib rakyat, bangsa dan negara yg diambang perpecahan.
Serahkan urusan rakyat, bangsa dan negara kepada kami kaum muda, untuk menjalankan kembali AMPERA”.(MHT)

Leave a Reply