RUTE SESAT DLM CARA KITA MEMILIH PRESIDEN.

RUTE SESAT DLM CARA KITA MEMILIH PRESIDEN.
Oleh :M.Hatta Taliwang

Mungkin Soekarno tak pernah berpikir menjadi Presiden. Mungkin juga tak pernah terucap dari bibirnya bahwa suatu hari dia ingin menjadi Presiden. Dia hanya berpikir bagaimana bangsanya segera cerdas, segera bebas dan merdeka dari Penjajahan. Bagaimana agar bangsa yg luas dan besar ini segera bersatu menyusun barisan perlawanan untuk mengusir apa yg sering dia sebut sbgai kaum imprealis, kolonialis. Kaum yg hanya mau enak sendiri dg mengexploitasi bangsanya.

Setiap hari dibenaknya bagaimana agar kaum marhaen segera hidup layak dan sejahtera, segera terbebas dari penindasan agar tidak selamanya jadi kuli dinegerinya dan tidak menjadi bangsa kuli.

Dia risau melihat bagaimana hasil kebun rempah2, karet, teh, kopi, tebu, gula dll hanya dinikmati orang kulit putih Belanda dan memakmurkan Negeri Belanda, dan segelintir anteknya, sementara rakyat pribumi menderita sengsara, kurus dan miskin.

Dia terus menulis dan bersuara lantang tentang ketidak adilan yg dilihatnya sehari hari. Menentang dan menentang serta menggugat, sampai suatu hari dia membuat gerah sang penjajah dan membuat ia harus di hukum dipenjara.
Sejak itu ia sering diisolir, diasingkan dan di penjara. Adakah saat itu terbetik dlm pikirannya, sebuah pamrih untuk menjadi pahlawan atau presiden ? Saya yakin tidak.

Sampai akan berlangsungnya sidang Badan Penyelenggara Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia(BPUPKI) maupun Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), saya yakin Soekarno maupun Hatta tdk berpikir akan menjadi Presiden dan Wakil Presiden.
Tak terpikir membentuk TIM SUKSES atau membuat spanduk : SOEKARNO FOR PRESIDENT !

Mereka hanya berpikir bagaimana konsep yg akan menjadi dasar dan aturan2 dlm negara baru yg mereka bangun. Sehingga tiba pada suatu titik ibarat sungai mengalir, suratan nasib membawa mereka berdua, dipercaya oleh teman temannya dlm semangat musyawarah utk menjadi kapten dari negara yg baru (BERSAMBUNG)

yg baru mereka dirikan. Mereka jadi PRESIDEN dan WAKIL PRESIDEN begitu saja secara alamiah sebagai buah dari jerih payah mereka tanpa hiruk pikuk harus saling sikut dan menjelekkan satu sama lain. Tanpa fitnah, tanpa mengumbar ego ego rendahan.

Seandainya kita menempatkan pertarungan membela rakyat dan pengabdian tulus membela rakyat sbagai tolok ukur dlm memilih Presiden dan membiarkan rakyat menilai dg cermat siapa pejuang sesungguhnya maka pasti akan lahir Presiden yg murni yg akan memajukan bangsa ini. Padahal persoalan bangsa yg dihadapi Soekarno tahun 20an sd 40an sama saja dg sekarang: Ada penjajahan(gaya baru), ada exploitasi SDA, ada banyak rakyat tertindas, ada banyak ketidakadilan dst bahkan lebih dahsyat. Lalu mengapa kaum pejuang yg selalu menyuarakan masalah2 tsb diatas tidak mendapat tempat utk kita dorong jadi pemimpin bangsa?Bukankah mereka ada di kampus, di LSM,di Ormas atau di Gerakan Buruh/Pengacara/Wartawan/Aktifis? Bukankah mereka ada yg unggul dlm integritas,kejujuran, track record dan kepedulian ? Mengapa kita membiarkan kaum penjajah itu membangun RUTE SESAT dlm cara kita memilih Pemimpin bangsa? Membiarkan aktor2 yg digelembungkan media massa / lembaga survey sehingga kita silau utk membedakan mana emas mana perak? Bahkan membiarkan antek asing berperan dlm ajang yg begitu strategis ini?Bukankah cara sesat ini telah menipu kita?Setelah berkuasa tak peduli nasib rakyatnya bahkan menjual bangsanya?

Seharusnya kita menempuh rute Soekarno(pergulatan pemikiran dan pertarungan dilapangan membela rakyat) itulah yg jadi patokan utk menentukan siapa Pemimpin atau Presiden sesungguhnya dlm menghadapi tantangan zaman ini. Rute ini jg yg ditempuh Lula da Silva utk merubah Brazil. Bukan membiarkan RUTE PRESIDEN IDOL yg sesat ini (akn) mengatur hidup kita! MHT 190913

Leave a Reply