SURAT TERBUKA UNTUK DPR/MPR RI

SURAT TERBUKA UNTUK DPR/MPR RI

DPR/MPR MESTI PANGGIL PRESIDEN SBY SOAL UTANG NEGARA.

Menurut info ini : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/10/29/0724037/Tahun.2014.Pemerintah.Berencana.Utang.Rp.345.Triliun

Pemerintah mau cari utang lagi sebesar Rp 345 Triliun. Padahal utang negara saat ini sudah mencapai 2.400 triliun. Kalau ditambah lagi 345 triliun berarti akan berjumlah 2.750 triliun.
Andil rezim SBY atas utang tsb akan berjumlah 1550 triliun(56% dari total utang negara sejak Indonesia merdeka) dlm masa 10 tahun Pemerintahannya.

Padahal selama Pemerintahannya banyak kegagalan, termasuk gagal mensejahterakan mayoritas rakyat. Orang miskin tetap besar, pengangguran intelek makin banyak dan kesenjangan(indeks gini) makin tajam. Jadi utang untuk apa dan siapa?
“Utang untuk membiyai pemerintahan yang korup. Selama ini utang telah menjadi sebab semakin dalamnya cengkraman modal sing terhadap perekonomian Indonesia dan menjadi sebab kesengsaraan rakyat”. kata pengamat ekonomi politik dari IGJ,Salamuddin Daeng

PENYESATAN SOAL UTANG
Pihak Pemerintah sering membuat penyesatan soal hutang ini dg membangun logika kira2 begini :
” Mana yg lebih baik Anda punya utang Rp10 juta tapi kekayaan Anda Rp15 juta, dengan punya utang Rp 30 juta tapi kekayaan Anda Rp 75 juta? Jadi , tak soal utang Anda meningkat berapapun besarnya, asalkan kekayaan anda juga meningkat drastis”.

Penjelasan itu sekilas betul. Akan tetapi, jika penjelasan itu adalah analogi terhadap kondisi utang negara kita saat ini, maka jelas ada manipulasi besar. Ada penyesatan di situ. Sebab, penjelasan soal utang negara tak sesederhana kisah dua orang yang saling pinjam-meminjam.

“Pertama,  utang negara yang terus meningkat tidak disertai dengan perbaikan kondisi dan kualitas hidup rakyat. Artinya, penggunaan utang itu belum tentu untuk menggerakkan perekonomian yang menyejahterakan rakyat.

Sebagian besar utang itu dipakai untuk menggerakkan sektor keuangan.Sangat sedikit yang dipakai untuk menggerakkan sektor real, yang notabene menyangkut rakyat banyak. Dari data yang ada disebutkan, sebanyak 39,6 persen utang itu dipakai untuk menggerakkan sektor keuangan. Sedangkan 9,3 persen dipakai untuk perbaikan infrastruktur listrik, gas, dan air. Kemudian sekitar 4,7 persen dipergunakan untuk pengangkutan dan komunikasi. Sementara pertanian, yang menjadi tempat bergantungnya puluhan juta rakyat, hanya menerima alokasi 3,0%.
Ini yang membuat akumulasi utang luar negeri Indonesia tidak berkontribusi pada perbaikan infrastruktur, perbaikan layanan dasar, dan penciptaan lapangan kerja secara massif.

Kedua, sejarah utang—terutama yang berhubungan dengan negara-negara dan lembaga imperialis—adalah “jebakan” alias perangkap (debt trap). Utang luar negeri, seperti ditulis oleh Susan George dalam buku “Debt Boomerang: How Third World Debt Harms Us All”, merupakan suatu mekanisme yang dibuat oleh negara maju (pendonor) untuk memaksa negara penerima (peminjam) mengikuti aturan-aturan atau langkah-langkah yang mereka paksakan.

Negara yang ‘terperangkap utang’ akan dipaksa untuk terus menggenjot ekspornya—terutama ekspor bahan mentah—dan melakukan penghematan pada pengeluaran pemerintah dan belanja kesejahteraan sosial. Ini yang terjadi di sejumlah negara Amerika latin satu dekade lalu dan sekarang terjadi di Indonesia.

Mungkin kita akan bangga dengan ekspor yang meningkat. Akan tetapi, seperti ditulis oleh Eric Toussaint, Presiden Komisi Penghapusan Utang Negara Dunia Ketiga, ekspor ini tidak lebih dari penjarahan kekayaan alam. Menurut Toussaint, dalam dua dekade terakhir, telah terjadi transfer kekayaan berkali-kali lipat dari pinggiran (dunia ketiga) ke pusat (negeri-negeri imperialis). Yang terjadi, negara dunia ketiga akan mengalami kekurangan bahan mentah dan bencana ekologis.

Di samping itu, untuk membayar utang, negara penerima pinjaman harus melakukan penghematan besar-besaran: pemangkasan subsidi, privatisasi layanan publik, dan lain-lain. Bahkan, tidak sedikit disertai dengan privatisasi BUMN. Akibatnya, rakyat dipaksa membayar mahal akses kebutuhan dasarnya (pendidikan, kesehatan, air bersih, listrik, makanan, dan lain-lain).

Inilah yang menjelaskan mengapa peningkatan utang luar negeri justru berbarengan dengan penurunan tingkat kesejahteraan dan kualitas hidup manusia Indonesia. Itulah sebabnya mengapa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, pada tahun 2011 lalu, terperosok di peringkat 124 dari 187 negara.

Jadi, alih-alih kekayaan nasional Indonesia meningkat, utang luar negeri justru menjebak Indonesia dalam “lingkaran krisis”. APBN tidak pernah sehat karena sebagian dipakai membayar cicilan utang. Sedangkan anggaran untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat terus dipangkas.  Lantas, apa buktinya bangsa kita menjadi kaya karena utang? “(SUMBER : Editorial BERDIKARI.ONLINE).

Sehubungan dg info dan analisis diatas kami berharap agar sebelum Pemilu digelar dan sebelum berakhir masa jabatan Presiden SBY, DPR/MPR RI memanggil Presiden untuk menjelaskan dan mempertanggungjawabkan kebijakan soal utang ini.

Demikian harapan kami.
M.Hatta Taliwang / Aktifis 77/78.

Leave a Reply