SYAHWAT BERKUASA PARA JENDRAL

SYAHWAT BERKUASA PARA JENDRAL
Oleh : M.Hatta Taliwang

Awal Oktober 2012 lalu
dalam acara peluncuran buku “Mengawali Integrasi, Mengusung Reformasi” yang dihelat oleh alumni Akabri 1970 di Balai Kartini, Jakarta, Jen Purn Luhut Panjaitan sbg alumni 1970 pidato didepan SBY yg hadir khusus diacara tsb dg kalimat :” meminta Presiden agar Presiden berikutnya haruslah sosok yang memiliki rekam jejak yang bersih. Punya success strory. Jangan punya masa lalu yang kelam,”

Pada silaturahim angkatan 1973 di Tampaksiring Bali sebelumnya terdengar kabar ada upaya menyatukan pandangan tentang siapa Jenderal berikutnya yang akan didorong menjadi capres.

Dari pernyataan Luhut dan info tsb dapat di deteksi betapa kuat syahwat para Jenderal untuk mengatur dan mengarahkan kekuasaan pasca berakahirnya kekuasaan SBY 2014.

Meskipun secara formal reformasi mendorong ke belakang peran TNI dalam bidang politik, namun itu hanya sesaat. Hanya dlm periode Habibie,Gus Dur dan Megawati peran poitik TNI surut sesaat. Mundur selangkah untuk maju lebih sempurna ketika kekuasaan sipil Megawati jelang berakhir.

Sekelompok jenderal purnawirawan berdiri rapi dibelakang SBY mengatur barisan “merebut kekuasaan” sipil. Mereka tidak ihlas dlm kendali sipil karena mereka merasa lebih memiliki kemampuan memimpin Republik Indonesia.

Kawan saya Indro S Tjahyono menulis tentang Pilpres :”Operasi senyap yang dikomandoi SBY memiliki beberapa tim dengan nama sandi, seperti operasi intelijen militer, yakni Tim Echo, Tim Delta, Tim Bravo, Tim Foxtrot, Tim India, Tim Romeo, dan Tim Sekoci. Sukses yang diraih tim-tim ini disebabkan keterlibatan para petinggi militer seperti Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto (Tim Echo), Irvan Edison (Tim Sekoci), Mayjen TNI (Purn) Abikusno (Tim Delta), Mayjen TNI Sardan. Marbun (Tim Romeo), dan banyak lagi mantan perwira tinggi militer.
(BERSAMBUNG)

(2)SYAHWAT BERKUASA PARA JENDRAL

Celakanya apa yang dilakukan oleh SBY ini sama dengan langkah-langkah aktif operasi intelijen perang yang dilakukan oleh aparat intelijen Soviet di masa lalu (Cheka, OGPU, NKVD, dan KGB), khususnya untuk mempengaruhi dan menciptakan jalannya peristiwa-peristiwa politik publik. Seolah tanpa disadari, semua berjalan begitu saja dengan diselimuti istilah-istilah baru seperti pemasaran sosial atau pemasaran politik (politic and social marketing), pewarnaan informasi publik terus dilakukan pihak SBY.”

Ketika Jenderal Luhut mengajak
6 jenderal purnawirawan lainnya
menemui SBY dan memberi kesan membela habis2an SBY dg mengeluarkan kata LIBAS, maka seorang Kol Purn menulis pesan ke saya : “Para Jenderal Pur yang dikumpulkan SBY sama sekali tidak mewakili semangat dan jiwa para purnawirawan TNI. Pertama, Luhut cs tidak netral. Dia lebih sebagai sosok konglomerat yang tunduk pada asing. Dia pengusaha bukan prajurit. Kedua, para jenderal yang jumpa SBY bukan saja tidak mewakili darat laut udara tapi hanya mewakili kelompok kecil jenderal Angkatan Darat yang berpikir bagaimana agar segala kebijakan investasi neoliberal bisa berlanjut pasca 2014″.

Terjadi dinamika dan “perlawanan” dari internal purnawirawan sendiri atas overactingnya sikap dan prilaku jenderal tsb. Rakyat sipil pun diam diam “ngedumel” melihat polah beberapa oknum jenderal tsb.
Seorang kawan menulis di blognya :”Ada Wiranto, ada Prabowo,ada Endiartono Soetarto dan jenderal lain yang kini sudah mulai ancang-ancang ikut Pilpres. Jujur saja, naiknya SBY ke tampuk kekuasaan tertinggi Indonesia mendorong jenderal yang lain untuk ikut tampil mengadu nasib. Siapa tahu nasib baik menghampiri mereka. Kalau SBY- yang karir militernya biasa-biasa saja – bisa jadi Presiden, mengapa mereka yang merasa dulu punya karir cemerlang di militer tidak bisa jadi Presiden RI.

Syahwat politik para jenderal itu ternyata masih besar.(BERSAMBUNG)

(3)SYAHWAT BERKUASA PARA JENDRAL
Saat masih aktif mereka tidak bisa keluar dari kungkungan disiplin militer dan
kekuasaan. Setelah menanggalkan seragam militernya, mereka punya kesempatan mencari kekuasaan di ranah lain. Pada masa Suharto, para purnawirawan itu mendapat jatah kekuasaan. Ada yang di pemerintahan ada juga yang di dunia usaha dan BUMN. Sekarang sama. Bedanya, sekarang para pensiunan itu harus mencari sendiri kekuasaannya(atau membangun kelompok!).

Arena perebutan kekuasaan jenderal purnawirawan adalah ajang bebas, siapa saja boleh masuk bertarung. Maka tidak heran bila para jenderal itu saling bertarung berebut kekuasaan.”

SBY adalah jenderal yang jg bergelar doktor bidang pertanian , namun urusan bawang, kedele dll saja sering bermasalah. Sekarang  Indonesia terseok-seok bahkan menuju negara gagal.

Sekarang sedang antri Jenderal lain ingin mengganti SBY, apa kelak bisa berbuat maksimal untuk rakyat Indonesia kalau mereka berkuasa? Sy pernah menulis SMS TERBATAS ke beberapa Jenderal ;” Kalau Jen Sudirman dan Jenderal senior lainnya masih hidup dan menyaksikan kondisi sekarang serta memperhatikan bgmana praktek kepemimpinan TNI sekarang , pasti beliau sangat prihatin .Sekarang tentu terpulang kepada sikap perwira2 yg msh hidup, apakah kondisi rawan ini akan dibiarkan? Kami tdk mendikotomi TNI dg Sipil tp kita berharap TNI memberikan perwira terbaiknya untuk memimpin Indonesia kalau masih ingin berperan dlm kepemimpinan Indonesia tanpa meremehkan kemampuan kaum sipil”.MHT

Leave a Reply